Pertumbuhan anak sangat ditentukan oleh lingkungan sebuah keluarga. Karena, anak hidup dari memori yang dialami sejak dini. Jika sedari dini mengalami kontraksi psikologis yang tidak menyenangkan, hal tersebut akan menjadi karakter dasar hidup di bawah alam bawah sadar setelah dewasa. Sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, dalam laman kemenpppa.go.id; perlindungan anak dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar termasuk hak atas rasa aman, kasih sayang, dan lingkungan belajar yang mendukung. Anak-anak berhak atas keamanan fisik dan psikologis. Anak terlantar bukan hanya yang tidak memiliki rumah, tetapi anak yang tidak terpenuhi hak-haknya. Menteri PPPA menegaskan, lembaga pendidikan tentu memegang peranan penting dalam membangun kepercayaan diri anak.
Di zaman keterbukaan informasi seperti saat ini, disharmoni dalam sebuah keluarga memang menjadi sebuah taruhan. Oleh karena itu, ketahanan keluarga adalah prioritas utama dalam menciptakan fisik dan psikologis harus memiliki pondasi yang kokoh.
Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau memberi resep dalam meningkatkan pemahaman orang tua kepada anak dan keluarga.
Respect Children as Individuals
Seorang anak bukan miniatur milik orang dewasa. Ia tumbuh dalam dunia, perasaan, dan cara berpikir yang dimilikinya sendiri. Mak, orang tua sebaiknya mampu bersikap menghormati pendapat, tempo belajar, serta pilihan-pilihan kecil yang dibuat oleh sang anak.
Active Listening
Ajak duduk, tatap mata, dan dengarkan keluhannya tanpa menyela. Validasi perasaannya dengan kalimat seperti, “Ibu mengerti kamu sedang sedih.” Seorang anak yang merasa didengar akan lebih mudah terbuka dan percaya diri.
Avoiding Violence in Any Form
Baik kekerasan fisik, verbal, maupun emosional dapat merusak rasa aman pada anak. Bersahabat kepada anak dapat berarti menghadirkan ruang aman, tempat ia tumbuh tanpa rasa takut.
Using Warm and Positive Language
Dari cara berbicara orag tua dapat membentuk cara anak memahami dirinya. Pilih kata-kata yang memotivasi seperti, “Kamu sudah berusaha, ayo kita coba lagi bersama!” Jangan katakan kegagalan kepada anak yang dapat menjatuhkan perasaan dan emosinya.
Setting Limits in a Gentle Way
Bersahabat bukan berarti mengabaikan. Bukan pula berarti membiarkan semuanya. Berilah aturan yang jelas, konsisten, namun disampaikan dengan empati. Jadilah dirinya. Seorang anak akan merasa aman ketika tahu batasannya.
Inviting Dialogue, Not Patronizing
Daripada memerintah, ajak anak memahami alasannya; “Mengapa kita harus merapikan mainan? Agar besok kamu mudah mencarinya.”
Become a Role Model
Anak belajar dari contoh. Jika ingin anak sopan, sabar, dan jujur, maka orang dewasa harus pula menunjukkannya terlebih dahulu. Tidaklah bisa memberi teladan yang sebaliknya.
Provide Quality Time
Bermain, membaca, atau sekadar mendengarkan ceritanya setiap hari dapat membangun kedekatan emosional. Anak butuh kehadiran, tidak cukup dengan materi. Berlakulah sebagai orang tua yang positif.
Appreciate the Process, Not Just the Result
Pujilah usaha yang telah dilakukan sang anak, bukan hanya keberhasilannya. Hal ini akan membangun rasa percaya diri dan ketangguhannya.
Admit Mistakes
Ketika orang tua berani menyatakan permintaan maaf, maka anak akan belajar dari kesalahan yang bukan aib, melainkan kesempatan untuk belajar.
Making Room to Explore
Biarkan ia mencoba, gagal, dan belajar lagi sendiri selama aman. Kebebasan terarah dapat mendukung kreativitas dan kemandirian.
Buatlah membuat sebuah keluarga sebagai ruang belajar bersama.










