Di tengah derasnya arus digitalisasi, ketika layar gawai semakin mendominasi perhatian generasi muda, SMA Al Furqon Lubuklinggau mengambil langkah strategis dan visioner untuk membangun budaya literasi yang kuat. Sekolah ini menerapkan sebuah kebiasaan sederhana namun berdampak besar: satu jam membaca buku sebelum kegiatan belajar dimulai. Program ini bukan sekadar rutinitas tambahan, tetapi bagian dari upaya serius menciptakan ekosistem pendidikan yang berorientasi pada karakter, kecerdasan, dan kemandirian belajar.
Kebiasaan satu jam membaca ini dilaksanakan setiap pagi. Seluruh siswa memasuki kelas dengan suasana tenang, membuka buku pilihannya, baik fiksi, nonfiksi, sains, sejarah, biografi tokoh, hingga kitab-kitab klasik pesantren. Guru-guru mendampingi tanpa mengintervensi, memberikan ruang bagi siswa untuk menyelami dunia bacaan masing-masing. Pola ini membangun ritme belajar yang sehat: sebelum menerima materi baru, pikiran siswa terlebih dahulu dipersiapkan melalui aktivitas membaca yang mendalam.
Program ini lahir dari kesadaran: kemampuan membaca bukan hanya keterampilan akademik, tetapi kunci bagi perkembangan intelektual dan karakter. Melalui membaca, siswa belajar memilah informasi, memperluas kosakata, meningkatkan daya konsentrasi, serta mengasah empati terhadap pengalaman dan gagasan orang lain. Dalam jangka panjang, budaya membaca menguatkan kemampuan problem solving, kreativitas, dan berpikir kritis. Kompetensi yang sangat dibutuhkan di era digital.
SMA Al Furqon Lubuklinggau juga menata ruang sekolah untuk mendukung gerakan ini: perpustakaan yang lebih ramah, pojok baca di tiap kelas, dan akses buku-buku baru yang terus diperbarui. Sekolah bekerja sama dengan berbagai mitra literasi, komunitas baca, serta penerbit untuk memperkaya koleksi bahan bacaan siswa.
Dampak positifnya mulai terlihat. Siswa menjadi lebih siap menghadapi pelajaran, lebih fokus, dan lebih terbiasa berdiskusi secara mendalam. Guru-guru pun merasakan suasana belajar yang lebih hidup dan kondusif. Yang paling membanggakan adalah tumbuhnya kesadaran bahwa membaca bukan sekadar kewajiban sekolah, tetapi kebutuhan pribadi.
Dengan komitmen yang kuat, SMA Al Furqon Lubuklinggau membuktikan: budaya literasi dapat dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Satu jam membaca bukan hanya cara memulai hari, tetapi langkah besar menuju generasi muda yang cerdas, kritis, dan berkarakter.









