Lima tahun yang lalu, November 2020, di penghujung Bulan Kelahiran Rasulullah, Muhammad Saw, Rabiul Awal, Hj Umi Kalsum mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit dr. Sobirin, Kota Lubuklinggau. Saat itu, malam baru berganti hari, dari Jum’at ke Sabtu. Jenazah kemudian dibawa pulang ke kediaman, Komplek Pesantren Al Furqon Lubuklinggu, Jalan Sejahtera, RT 002, Kelurahan Tabajemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau. Prosesi pemakaman berjalan khidmat, dihadiri oleh sanak kerabat.
Hj Umi Kalsum adalah puteri keempat dari pasangan KH Ahmad Zahruddin Syambasi dan Hj Muthmainnah. Lahir di Desa Binjai, Kecamatan Muarakelingi, Kabupaten Musirawas.
KH Ahmad Zahruddin Syambasi cukup lama tinggal dan mengajar ngaji di Desa Binjai bersama istrinya dan puteranya, Ahmad Musta’in. Di Desa Binjai ini, ia mendapat nama panggilan “Guru Din”. Meskipun, di kemudian hari, ia hijrah ke Muarakelingi dan mendirikan madrasah, lalu hijrah lagi ke Lubuklinggau, KH Ahmad Zahruddin Syambasi masih dianggap sebagai guru dan tetap menjadi tumpuan tempat bertanya oleh warga Desa Binjai.
Hj Umi Kalsum tumbuh dan besar di Komplek Pondok Pesantren Ittihadul Ulum, Jalan Malabar No. 427, Kota Lubuklinggau. Setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama Islam, Yayasan Darul Ma’arif, ia mesantren di Pondok Pesantren Pancasila, Bengkulu. Dan, setelah tamat Madrasah Aliyah, Hj Umi Kalsum mulai mengabdikan ilmunya, mengajar di Sekolah Dasar Islam, Yayasan Darul Ma’arif, hingga kemudian menjadi Guru Negeri di SD 16, Jalan Kelabat, Kelurahan Jawa Kiri I, Kota Lubuklinggau.
Selama mengajar di SD 16 ini, Hj Umi Kalsum kemudian menemukan jodohnya, H Muhammad Ace, guru honorer yang kemudian diangkat menjadi pegawai Dinas Peternakan Kabupaten Musirawas, asal Desa Pelawe. Waktu itu, Ibu Hj Muthmainnah tidak memberi syarat yang berat, hanya berpesan ketika menerima pinangan. “Anakku jangan diajak berutang.” Keduanya lalu mengikat tali pernikahan dan memulai hidup baru pada 1988. Setapak demi setapak, keduanya mengarungi roda kehidupan, mengawal berdirinya Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Dari pernikahan itu, lahir tiga orang puteri dan empat orang cucu










