Muhammad, sejak lahirnya ya begitu namanya, hanya satu suku kata. Sedangkan penambahan kata ACE di ujung namanya adalah kependekan dari dua nama orangtuanya Alwi-Cekning. Penambahan ACE kemudian menjadai MUHAMMAD ACE setelah menjadi pegawai negeri di Dinas Peternakan Kabupaten Musi Rawas sekitar tahun 1986.
Pengaruhnya dalam keluarga besar ACE (Alwi-Cekning) seakan, Muhammad ACE, menjadi pusaran air. Kepeduliannya menampung seluruh keluarga kakak, adik beradik, keponakan bahkan cucu sekalipun, menjadikan rumahnya tak pernah sepi dan selalu terisi oleh keluarga besar yang numpang di rumahnya sambil sekolah atau hanya bermalam melepas kangen.
Dia ringan tangan, pedulinya sangat tinggi dalam membantu setiap keluarganya yang mengeluh. Itulah sosoknya. Dia tak mau mendengar dua kali ada keluarga yang mengeluhkan masalah padanya. Tak segan merogoh sakunya dan memberikan uang jajan kepada para ponakannya, atau meminjamkan uang kepada kakak atau adik-adiknya yang membutuhkan.
Saya, Ferry Irawan AM, sebagai keponakan ikut numpang semenjak dia masih lajang. Pertengahan tahun 1982, saya menjadi bagian di dalam rumah Neknang dan Neknoh di Tran Bansos II (baru) di era Soeharto. Kami menempati rumah kayu bantuan presiden (1982) di bagian ujung. Sedangkan bapak saya di Tran Bansos I (lama) di pangkal dusun.
Kami menempati rumah itu, Saya sendiri, Neknang Alwi, Neknoh Cekning, Cik Mad (Muhammad) dan Cik Son (Masonah, anak bungsu dari Neknang-Neknoh). Satu tahun kemudian Cik Son menikah. Maka tinggal kami berempat menempati rumah itu. Keseharian kami, saya sekolah kelas 3. Cik Mad sebagai tenaga guru honor di SDN Dharmakarya. Neknang dan Neknoh motong karet.
Setahun kemudian ketika saya naik kelas IV, Muhammad ACE diangkat menjadi pegawai negeri. Dan, saya ikut diboyong ke Lubuklinggau, pindah ke SD Negeri 16, Jalan Kelabat, Talang Jawa Kiri I, Kota Lubuklinggau. Cik Mad bekerja di Dinas Peternakan Kabupaten Musi Rawas, Tabapingin. Selama kurang lebih 3 bulan. Saya dan Cik Mad menempati pondok bambu milik Pak Ujang Inip di Jalan Ceremeh. Maklumlah, untuk mengontrak rumah, kami belum mampu. saya sendiri, selepas sekolah menjual es balon dengan berkeliling di seputaran Jalan Ceremeh untuk memenuhi kebutuhan sekolah, jajan, bahkan terkadang membeli bumbu dapur.
Begitulah sebagian kisah yang teramat berkesan saya mengenang 7 hari mangkatnya Pamanda Muhammad ACE. Muhammad ACE, Allahumaghfirlahu, Aamiin.










