Bermula dari Pedagang Keliling
Mencari rezeki yang halal dan thayib adalah ajaran prinsip Hajjah Muthma’innah. Mengenang perjalanan yang jauh di perantauan yang penuh suka dan duka. Masuk keluar hutan, dari dusun ke dusun. Di era yang masih sulit dilalui oleh transportasi darat. Hajjah Muthma’innah mengalami terpaan era paceklik sejak dari Toyogiri hingga ke Sumatera.
Jika era 1980 hingga 1990an Gang Tawakal Kelurahan Talang Jawa Kiri I, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau, dikenal sebagai pusat industri tahu, maka Hajjah Muthma’innah di Jalan Malabar 427 juga membuka pabrik tahu. Bedanya, jika pabrik tahu yang dikelola oleh Haji Masduki dipasarkan di wilayah Kota Lubuklinggau, maka tahu milik Hajjah Muthma’innah itu dikelola oleh Kang Sani. Perantauan dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kang Sani yang bekerja membuat tahu dengan diberi warna kuning, khas Kediri, itu memasarkannya ke wilayah Mirasi dengan mengendarai sepeda kayuh. Usaha tahu Hajjah Muthma’innah tersebut maju dengan pesat. Biasanya, Kang Sani berangkat siang membawa dua bak penuh tahu dan kembali menjelang malam. Kang Sani memulai pekerjaan membuat tahu setelah malam.
Kang Sani saat itu membawa dua kepala keluarga dari Kediri sebagai tenaga kerja. Sehingga pekerjaan pembuatan tahu itu dapat dikerjakan lebih cepat oleh karyawannya.
Tahu Bunting buatan Hajjah Muthma’innah menjadi pilihan favorit dan digemari oleh para mahasiswa yang pernah kuliah di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Tahu itu bisa habis dalam sekejap setelah diangkat dari penggorengan karena memang benar benar lezat dan gurih.
Tahu sebagai Objek Pembelajaran
Seiring kemajuan akulturasi budaya, tahu bukan lagi didominasi oleh perantauan dari suku Jawa saja. Tahu sudah menjamur sebagai industri rumah tangga yang bisa dikelola oleh siapa saja. Meskipun, suatu usaha terkadang tidak lepas dari keterampilan tangan yang mengerjakannya.
Begitu pula, jenis jenis aneka tahu telah beragam sehingga dapat disajikan dalam bentuk dan citarasa yang bermacam macam. Tahu pun sudah menjadi komoditas industri kuliner yang cukup menjanjikan dan dikenal dunia.
Dari aspek industri ini, tahu dapat dijadikan materi penelitian dalam pembelajaran di bidang industri, mengingat tahu bukan lagi model makanan bagi kalangan biasa. Tahu sudah menjadi menu yang disajikan di kalangan masyarakat berkelas. Dan, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pengusaha tahu.










