
Tidak terasa, bumi semakin dipadati oleh manusia. Setiap tahun, populasi dunia kian meningkat. Pada 2024, populasi manusia di dunia hampir menyentuh angka 9 miliar orang penduduk, 8.233.897.335. Dengan tingkat pertumbuhan penduduk diperkirakan naik 0,836%, yaitu jumlah pria sebanyak 4.138.857.451 (50,266%) dan perempuan 4.095.039.883 (49,734%). Pada kelahiran tahun 2025 diperkirakan mencapai 71.285.611 orang.
Dengan perubahan yang demikian cepat, jumlah tersebut bisa berkurang drastis setelah adanya perang, sebaran penyakit pandemi dan endemi, dan karena renta.
Seiring laju perkembangan dunia tersebut, setiap kita yang pernah tinggal di dusun akan merasakan betapa pola dan perilaku hidup pun berubah. Meskipun, tidak didukung oleh keinginan keinginan yang besar.
Pada masa lalu, ketika sarana transportasi masih melalui jalur sungai, manusia dusun berkunjung antardusun menggunakan wahana perahu biduk atau sekoci. Di atas perahu atau sekoci itu, manusia dusun dapat membawa barang barang dagangan sesuai dengan kebutuhan untuk waktu yang lama. Mereka seminggu sekali berbelanja barang barang kebutuhan untuk digunakan selama tinggal di ume (huma). Di ume, manusia dusun merepu, menanam padi darat. Untuk sekadar kebutuhan lauk pauk, terkadang berbelanja lauk yang sudah dikeringkan seperti ikan asin sepat. Ikan asin yang biasa dimakan dengan sambal calo (terasi). Untuk kebutuhan lauk yang lebih mewah, manusia dusun akan menjerat burung Punai atau masang tajur.
Pada musim buah durian runtuh, manusia dusun akan menyisiri Kampung Dian. Menunggu angin menjatuhkan buah yang sudah matang.
Menjadi manusia dusun sungguh menyenangkan. Hidup bisa bergantung pada alam. Ikan sungai, use, semapo, kancil, dan ayam Beruge adalah hewan hewan buruan yang halal. Bisa didapat jika memiliki kesungguhan untuk menangkap.
Rumah rumah panggung yang terbuat dari kayu sengaja dibuat untuk menghindari musim banjir. Di samping, untuk menjaga keamanan dari binatang binatang buas dan berbisa. Di bawah rumah panggung dapat ditaruh tumpukan puntung, kayu bakar. Dan, bisa masak di bagian belakang rumah. Manusia dusun bisa memperkirakan kapan mereka bisa berhemat untuk jangka waktu yang panjang. Dengan cara menumpuk puntung dan menyimpan tempoyak, rosip, dan kebun terung.










