Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, adalah salah satu fenomena unik bagi lingkungan sosial dalam menciptakan wadah belajar yang efektif. Berawal dari kursus kecil yang dirintis oleh K.H. Ahmad Yazid, pendiri Basic English Course (BEC) pada 1977, kawasan Pare berkembang menjadi pusat dan magnet pembelajaran bahasa Inggris dengan ribuan peserta didik setiap tahunnya dari berbagai penjuru daerah. Keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di Pare tidak hanya bertumpu pada metode pengajaran formal, melainkan juga karena terbentuknya ekosistem belajar total: masyarakat, kursus/bimbel, dan asrama (camp), hingga pedagang kaki lima, semuanya berinteraksi dengan bahasa Inggris. Pola yang sudah dibangun oleh sistem belajar pondok pesantren. Dengan demikian, bahasa tidak hanya dipelajari sebagai subject matter, tetapi dipraktikkan secara langsung dalam konteks keseharian.
Bagi dunia pendidikan di Indonesia, model Kampung Inggris Pare dapat memberikan inspirasi penting ketika lingkungan belajar dapat dirancang secara kolektif sehingga mendorong immersion penuh dalam mata pelajaran yang ditargetkan. Model ini telah direplikasikan di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dengan memanfaatkan waktu dan ruang secara efektif. Dengan harapan, pembelajaran tidak lagi bergantung pada ruang kelas semata, tetapi menjadi kultur hidup yang menghidupkan lingkungan dan masyarakat.
Muncul pertanyaan, bagaimanakah konsep lingkungan belajar di Kampung Inggris Pare bisa terbentuk? Faktor apa sajakah yang mendukung keberhasilan pembelajaran di Kampung Inggris Pare tersebut? Dan, bagaimanakah strategi membangun lingkungan belajar serupa di daerah lain?
Dengan mendeskripsikan model lingkungan belajar Kampung Inggris Pare tersebut, menganalisis faktor pendukung dan tantangan penerapannya, serta memberikan rekomendasi praktis untuk membangun lingkungan belajar serupa di tempat lain. Maka, perlu dilihat pendekatan teoretik berikut:
Teori Lingkungan Belajar
Menurut Lev Vygotsky, proses belajar akan lebih efektif jika didukung interaksi sosial dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development), yaitu kondisi ketika peserta didik mampu berkembang melalui dukungan lingkungan atau tutor sebaya sebagaimana sejalan dengan konsep yang berlaku di Pare. Ketika komunitas kolektif berfungsi sebagai tutor sosial. Lingkungan belajar kolektif ini dapat berjalan jika didukung oleh kelengkapan organisasi yang teratur dengan pimpinan (guru) yang memiliki komitmen untuk memajukan pendidikan dan pembelajaran.
John Dewey menekankan pentingnya experiential learning, yakni belajar dengan pengalaman langsung, bukan hanya instruksi formal. Di Pare, prinsip ini hadir dalam praktik sehari-hari, misal ketika siswa berbelanja atau memesan makanan di warung dengan menggunakan bahasa Inggris.
Teori Akuisisi Bahasa Kedua
Stephen Krashen mengajukan Input Hypothesis, bahasa atau materi pembelajaran akan lebih cepat dikuasai jika digunakan dalam konteks alami dan komunikatif, bukan sekadar hafalan tata bahasa atau model ceramah yang bakal cepat hilang. Prinsip ini diterapkan di Pare melalui aturan English Area yang mewajibkan interaksi bahasa Inggris setiap saat.
Studi tentang Kampung Inggris Pare
Sejumlah penelitian menunjukkan efektivitas pola pendidikan di Pare. Suyanto (2015) menyebut Pare sebagai “laboratorium sosial pembelajaran bahasa” yang berbasis komunitas, bukan hanya sekadar lembaga formal. Wulandari (2020) menekankan, adanya learning community yang menguatkan motivasi peserta melalui interaksi sosial yang homogen.
Faktor Keberhasilan Kampung Inggris
Ada beberapa faktor yang menjadikan Pare berhasil menjadi pusat belajar bahasa:
Lingkungan Total (Total Environment)
Semua aktivitas dilakukan dengan bahasa Inggris seperti berbelanja, diskusi, bahkan bercanda. Hal ini menciptakan kondisi immersive learning.
Komunitas Homogen Tujuan
Hampir semua orang di kawasan Pare memiliki tujuan sama untuk belajar bahasa Inggris. Situasi ini melahirkan atmosfer kompetisi sehat sekaligus saling dukung.
Keterjangkauan Biaya
Biaya kursus dan pendidikan relatif murah (berkisar Rp 200.000–500.000 per program intensif), demikian pula biaya hidup. Faktor ini membuat Pare menjadi inklusif.
Sistem Camp atau Asrama
Peserta tinggal di asrama yang mewajibkan penggunaan bahasa Inggris 24 jam. Ada hukuman ringan, misal push-up atau berbicara di depan umum bagi yang melanggar.
Budaya Belajar Kolektif
Semangat kolektif memperkuat motivasi individu. Hal ini selaras dengan konsep peer learning yang diyakini mempercepat internalisasi bahasa.
Untuk strategi dalam membangun lingkungan belajar serupa seperti Pare diperlukan beberapa langkah berikut:
Membentuk Komunitas Belajar Lokal
Membuat English Zone atau Math Zone di sekolah atau kampung. Aturan khusus diberlakukan, misal hari tertentu wajib berbahasa Inggris.
Menetapkan Sistem Camp
Siswa tinggal bersama dalam dormitory dengan disiplin bahasa, sehingga interaksi lebih konsisten.
Pemanfaatan Teknologi
Grup WhatsApp/Telegram untuk latihan harian.
Kanal YouTube lokal sebagai wadah praktik presentasi.
Gamifikasi (poin, level, hadiah) untuk menjaga motivasi.
Keterlibatan Masyarakat
Seperti di Pare, pedagang, kos, dan warga sekitar dilibatkan sehingga bahasa menjadi bagian dari ekosistem sosial, bukan hanya di ruang kelas.
Tantangan dan Solusi
Kurangnya Tutor Berkualitas
Solusi, pelatihan dapat dilakukan dengan tutor lokal dan kerja sama dengan universitas.
Komitmen Peserta Rendah
Solusi dapat dilakukan dengan membuat reward system (sertifikat, penghargaan, konten publikasi).
Fasilitas Terbatas
Solusinya dapat memanfaatkan teras rumah, masjid, atau ruang publik sebagai kelas gratis.
Kesimpulan/Rekomendasi
Kampung Inggris Pare merupakan model sukses lingkungan belajar berbasis komunitas yang menekankan immersion, disiplin, dan budaya kolektif. Lingkungan yang mendukung belajar sepanjang waktu terbukti lebih efektif dibanding pembelajaran formal yang terbatas pada jam kelas.
Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau menciptakan kampung belajar di tiap pojok dengan model Pare.
Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau bersama divisi sekolah membangun immersion program, misal English Camp secara berkelanjutan. Teknologi digital dapat dimanfaatkan agar lingkungan belajar tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga virtual. Masa depan kemakmuran dan kesejahteraan hanya bisa diraih dengan belajar dengan sistem kolektivitas dan organisasi yang berjalan efektif.










