Dengan hafal surat surat pendek Al Quran, berarti profil lulusan peserta didik SD Al Furqon Lubuklinggau sudah disiapkan untuk menjadi calon pemimpin. Minimal menjadi imam sholat berjamaah dan pembacaan tahlil.
Di samping itu, SD Al Furqon Lubuklinggau secara bertahap akan memprioritaskan pula peserta didiknya untuk melek huruf Arab gundul yang sudah dikenal dengan sebutan kitab kuning.
Formasi Integral
Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau membentuk fondasi pendidikan berkarakter dan pembelajaran yang kokoh. Untuk membentuk karakter demikian, maka peserta didik akan dibekali dengan fondasi bahasa Al Quran. Dengan bahasa Al Quran tersebut, maka pesantren merupakan benteng agama dan negara. Dalam salah ceramahnya, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan bahwa pesantren adalah benteng yang kokoh. Pesantren adalah al Hisnul Hasin. Benteng yang kokoh. Dan, benteng yang kokoh itu adalah bahasa Al Quran. Maka, sudah selayaknyalah bahasa Al Quran dijadikan fondasi dasar dalam membangun kebudayaan. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al Jumu’ah ayat 2;

Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang berbahasa ibu (bahasa Arab) seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka, lalu mengajarkan mereka Al Kitab dan hikmah. Padahal, mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Dengan kata lain, untuk menemukan hikmah dan rahasia terbesar dalam hidup sudah selayaknya mempelajari Al Quran.
Intrakurikuler, Kokurikuler, Ekstrakurikuler
Program menghafal surat surat pendek Al Quran dan melek kitab kuning tersebut akan masuk ke dalam intrakurikuler pembelajaran mendalam (deep learning), bukan pada kokurikuler atau ekstrakurikuler. Jika bahasa Al Quran tidak dijadikan sebagai fondasi belajar, maka bangunan bangunan keilmuah yang lain tidak akan kokoh. Seseorang bisa saja terjerumus ke dalam praktik mengurangi timbangan karena tidak mengerti pesan pesan Al Quran. Begitu pula, orang yang tidak mengerti larangan menghilangkan nyawa orang lain, maka dia akan mudah melakukannya. Padahal, memelihara nyawa seseorang merupakan tujuan disyariatkannya Islam (keselamatan). Dan, untuk mengetahui bahasa Al Quran lebih dalam lagi sehingga mengerti akan perbedaan fitrah manusia, kitab kitab kuning yang mengajarkan banyak makna akan membuka cakrawala berpikir dan toleransi hubungan antarmanusia dan antarkerabat.










