Besadu diistilahkan dalam bahasa Melayu, khususnya Melayu Sambas, Kalimantan Barat, berarti tradisi adu mulut atau berbalas pantun secara spontan dalam suatu acara adat atau pertemuan masyarakat. Dalam tradisi tersebut, dua orang atau lebih saling berbalas pantun, syair, atau kata-kata yang penuh makna, biasanya dengan nada jenaka, sindiran halus, atau nasihat. Besadu tidak hanya dianggap sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sarana pendidikan moral, diplomasi sosial, dan menjaga kekayaan bahasa serta sastra lisan Melayu.
Ciri Khas Besadu
Berbentuk lisan – dilakukan secara langsung, bukan tertulis.
Menggunakan pantun atau syair sebagai medium.
Interaktif – dilakukan secara berbalas-balasan.
Fungsi sosial – untuk menjalin silaturahim, menasihati, menghibur, sekaligus menunjukkan kepandaian berbahasa.
Dengan demikian, besadu bisa dipahami sebagai pertarungan kata-kata yang indah dan bermakna dalam bentuk pantun atau syair di kalangan masyarakat Melayu.
Kata Besadu dalam konteks masyarakat Lubuklinggau memiliki ciri khas yang sedikit berbeda dari istilah yang digunakan masyarakat Melayu Sambas tersebut. Besadu bisa berarti bersandar, baik dalam bentuk ritme bahasa tubuh yang mencari perlindungan dari terik matahari di bawah pohon atau dalam tutur kata sekadar melepas keluh kesah. Besadu memiliki padanan kata dengan kata Bedadu yang berarti berhenti sejenak untuk sekadar berteduh atau beristirahat dari kepenatan bekerja.
Secara kontekstual, Besadu adalah menumpahkan curahan isi hati agar mendapat empati dan simpati dari orang yang lebih mengerti, tentu dengan tutur bahasa yang lebih sopan sehingga tidak memancing emosi untuk sebuah amarah. Besadu diutarakan oleh si penutur agar dalam keluh kesah akan mendapatkan jalan keluar atau solusi.
Dramatisasi Besadu
Sebuah drama dilahirkan dari ekspresi dan refleksi kehidupan nyata manusia. Dari drama tersebut, dapat dimengerti sebuah ekpresi atas kejadian atau peristiwa. Namun, dari drama tersebut diharapkan dapat satu gambaran hikmah. Pelajaran yang dapat diambil saripatinya ketika meniti jalan kehidupan.
Namun, tidak semua orang mengerti arti sebuah drama apalagi dalam situasi yang menghimpit. Kehidupan nyata yang dialami tidak pernah disadari dalam sebuah refleksi kecuali hanya berlalu begitu saja. Padahal, sebuah refleksi sangat diperlukan agar tidak terjerumus ke dalam lubang kesengsaraan yang sama.










