Kemajuan suatu bangsa tidak ditandai dengan kemajuan infrastruktur, melainkan oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Jika sumber daya manusia lemah maka akan dikalahkan oleh sumber daya manusia yang kebih baik.
Berkaca pada Negara Maju
Suku-bangsa Jepang mengalami penderitaan yang sangat parah ketika dijatuhi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Suku-bangsa Turki mengalami perpecahan setelah Perang Dunia I menjadi negara-negara Timur Tengah seperti saat ini. Suku-bangsa Amerika dapat maju setelah mengalami perang panjang. Memang, untuk mencapai kemajuan membutuhkan waktu yang tidak singkat, sesingkat membangun gedung yang dapat dihitung dalam waktu yang sebentar.
Sebuah kampus didirikan tahun 1453 oleh Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) adalah saksi, ketika wilayah Turki yang luas dipecah belah. Namun, suku-bangsa Turki sadar jika pendidikan adalah hal utama yang harus dibangun. Membangun manusia lebih utama daripada membangun gedung-gedung tinggi.
Begitu pula suku-bangsa Jepang tidak mengutamakan gedung bagus untuk menjadi negara maju di bidang industri. Mereka memanfaatkan potensi budaya masyarakat untuk memaksimalkan alam di sekitarnya. Tidak menunggu uang datang.
Oleh karena itu, “Semua negara maju, mereka fokus membangun pikiran warga masyarakatnya. Pikiran (mindset) akan menjadi drive (kendaraan) yang mengarahkan peradaban. Dengan kemajuan pikiran, secara otomatis, gedung, sistem, dan semua komponen fisik akan tumbuh bersamaan. Jangan berhenti belajar dan berpikir, karena di sana semua perubahan besar dimulai!” demikian, pesan Syafii Efendi, seorang pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Lastday in Young Economic Security Forum, Turki, pada tanggal 19 Agustus 2025.
Hindari Pendidikan Sebatas Formalitas
Kemajuan mindset dapat menentukan arah pembangunan. Kemajuan mindset memang tidak datang serta merta, melainkan melalui proses dan ketekunan. Tapi, kemajuan mindset tidak cukup hanya sebatas formalitas selembar ijazah pengakuan.
Seorang peserta didik perlu menunjukkan potensi dan kompetensi dirinya. Karena, setiap orang telah dianugerahi Allah Taala dengan kelebihan masing-masing. Jadi, tidak ada orang yang benar-benar pintar kecuali dia mampu menunjukkan segenap potensi yang ada pada dirinya.
Sebuah pondok pesantren biasanya menjalankan program pendidikan selama dua puluh empat jam. Tidak terbatas pada jam-jam sekolah semata. Seorang peserta didik di pesantren akan memaksimalkan waktu untuk belajar meskipun di tengah malam ketika banyak orang terlelap dalam tidur dan mimpi mereka. Seorang peserta didik di pesantren akan bangun pada tengah malam. Bermunajat kepada Allah untuk mendoakan dirinya, mendoakan keluarganya, serta mendoakan masyarakat lingkungannya agar menjadi lebih baik.
Kemajuan akan cepat tercapai jika diupayakan dengan sungguh-sungguh.
Keunggulan Pesantren
Untuk melihat kemajuan pendidikan, spiritualitas dalam kemampuan menjaga nilai agama dan moralitas bangsa, sebagaimana ditegaskan bahwa kolektivitas peserta didik berperan dalam memperkuat identitas keagamaan dan kebangsaan. Intelektual seorang santri atau peserta didik di pesantren terbiasa dengan literasi teks (kitab kuning).
Di samping itu, moralitas: disiplin, keikhlasan, dan semangat jihad fi sabilillah dalam menuntut ilmu dalam sejarahnya terbukti melahirkan gerakan manusia unggul.
Dengan modal tersebut, santri atau peserta didik dapat berperan sebagai penjaga akidah digital, agen literasi masyarakat, serta pionir dalam mengawal kedaulatan informasi suatu masyarakat.










