Sama sama mesantren di Plosomojo, Kediri, keduanya menjadi santri KH Djazuli Usman.
KH Abdurrahman Chudlori yang biasa disapa Mbah Dur itu menjadi santri muda ketika KHA Zahruddin Syambasi, Pendiri Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, telah menjadi guru badal atau asisten dari KH Djazuli Usman. Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, itu lahir 31 Desember 1943, berbeda usia selisih sembilan tahun dari KHA Zahruddin Syambasi yang lahir tahun 1935.
Dikisahkan, setelah hari menjelang sore, KHA Zahruddin Syambasi seperti biasa duduk di kursi rotan kesukaannya di teras rumah. Saat itu, tersiar kabar akan ada pengajian akbar yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Walisongo, Desa F Trikoyo, Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musirawas. Pengajian akbar itu sedianya akan dihadiri oleh KH Abdurrahman Chudlori. KHA Zahruddin Syambasi kemudian bergumam, “Kuwi mbiyen muridku nang Ploso.” Beliau itu dulu muridku di Ploso. Memang, jika dirunut dari segi usia mesantren, KHA Zahruddin Syambasi termasuk santri yang masih menangi, menjumpai, pendiri Pesantren Plosomojo, KH Djazuli Usman, dan berguru langsung kepada beliau. “Mbah Dahnan wis uzlah lan Gus Miek masih sering tidur di gotaanku.” Mbah Dahnan (Trenggalek) sudah uzlah, hidup menyendiri, sementara Gus Miek (KH Chamim Djazuli) masih sering tidur di kamarnya. Dan, diceritakan, kalau malam tiba, Gus Miek sudah ngelayap, neracak di atas daun pisang. Menghilang.
Sore itu, KHA Zahruddin Syambasi masih berharap ada panitia pengajian yang mau mengantarnya berjumpa dengan KH Abdurrahman Chudlori di Pondok Pesantren Walisongo. Tapi, ketika hari telah berganti malam, tetap tidak ada orang yang mengajaknya pergi atau sekadar memberitahu keberadaannya kepada KH Abdurrahman Chudlori.
KHA Zahruddin Syambasi sering bercerita tentang kenangannya semasa mesantren di Plosomojo setiap ada tamu yang datang, mengunjunginya. Setelah purna tugas di Kementerian Agama RI Kabupaten Musirawas dan DPRD Kabupaten Musirawas, KHA Zahruddin Syambasi sudah tidak lagi mengenakan celana panjangnya. Beliau lebih sering mengenakan sarung sebagai identitas dunia pesantren yang sangat dicintainya. [Mangiya].










