Selain mengikat tali silaturahim dengan beberapa pesantren besar di Jawa seperti Pesantren Plosomojo Kediri, Pesantren Al Furqon Lubuklinggau juga memiliki jalinan sejarah yang cukup romantik dengan Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, Ustadz Adi Sulistyo. Jalinan sejarah tersebut diantaranya adalah peran KHA Zahruddin Syambasi, pendiri Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, ketika mengundang beberapa santri Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng untuk turut mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), baik tingkat Kabupaten Musirawas atau tingkat Provinsi Sumatera Selatan yang diselenggarakan di Kota Lubuklinggau.
Di samping itu, nama yayasan yang digunakan oleh Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, yaitu Yayasan Madrasatul Furqon, mengingatkan keterlibatan dua santri Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng, Muhtarom dan Muhyiddin, yang turut merintis berdirinya Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Sehingga tafa’ul Pesantren Al Furqon Lubuklinggau sedikit banyak telah mengacu dan mereferensikan kepada Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Tebuireng yang didirikan oleh Hadratussyekh KHM Yusuf Masyhar tersebut.
Oleh karena itu, menurut Ustadz Adi Sulistiyo, Pondok Pesantren Al Furqon yang berdomisili di Jalan Sejahtera, RT 002, Kelurahan Tabajemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau, akan memformulasikan beberapa sistem yang diambil dari pesantren pesantren besar di Jawa. Seperti inovasi pengembangan studi kitab kuning, menghafal Al Quran, serta riset dan teknologi akan menjadi program program unggulan.
Ke depan, Pondok Pesantren Al Furqon yang kini dipimpin oleh Masyhadi, putera bungsu KHA Zahruddin Syambasi, terus akan menggalakkan inovasi inovasi bagi kemajuan pondok pesantren. Sehingga, pondok pesantren akan kembali kepada jati dirinya sebagai wahana penggemblengan manusia manusia unggul di bidang sumberdaya manusia. Seperti Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng yang memformulasikan “memadrasahkan Al Quran” dalam artian Al Quran tidak semata hanya bisa dibaca, melainkan dapat terus dikaji melalui berbagai pendekatan disiplin ilmu. Tidak saja dari aspek susastra yang menjadi dasar pijakan studi Al Quran, bahkan lebih jauh kepada studi studi saintis yang cukup relevan di masa kekinian, Dengan demikian, penyesuaian penyesuain kurikulum dan pendidikan pesantren yang tidak pernah berhenti akan terus dilakukan.[Mangiya].










