Pesantren Al Furqon Lubuklinggau memiliki keterikatan emosional dengan pesantren pesantren besar di Pulau Jawa, hal ini ditunjukkan melalui keterikatan hubungan keluarga maupun guru dan murid.
Pendiri Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, KHA Zahruddin Syambasi, merupakan salah satu santri awal yang mesantren di Pesantren Al Falah Plosomojo Kediri. Sehingga mengenal dekat dengan santri santri senior kala itu seperti KH Dahnan Trenggalek. Salah satu kiai khos Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang memiliki “channel” pusat.
Untuk mengenal sanad keilmuan KHA Zahruddin Syambasi, tentu harus mengenal gurunya, KH Ahmad Djazuli Usman. Pendiri Pesantren Plosomojo Kediri. Kurang lebih selama enam tahun, KHA Zahruddin Syambasi menimba ilmu di Plosomojo.
KH Ahmad Djazuli Usman selain mesantren ke Langitan dan Mekah merupakan salah satu santri Hadratussyekh KHM Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama (NU). Kepada Hadrastussyekh tersebut, KH Ahmad Djazuli Usman menimba ilmu hadis yang menjadi spesialis Hadratussyekh. Di samping, sistem pendidikan salafiyah yang dikembangkan oleh Hadratussyekh. Sistem pendidikan yang dikenal hingga sekarang di Pesantren Plosomojo diadopsi dari sistem Pesantren Tebuireng. Meskipun, Pesantren Tebuireng belakangan mendapat model pembaharuan pendidikan pesantren yang dipelopori KH Abdul Wahid Hasyim.
KH Ahmad Djazuli Usman dikenal sebagai “Kiai Blawong”. Blawong adalah istilah untuk penyebutan seekor burung yang memiliki keindahan bagi orang Jawa. Karena, KH Ahmad Djazuli Usman memiliki kepandaian menulis kaligrafi yang baik dan indah, maka Beliau dikenal sebagai Kiai Blawong.
Metode pembelajaran salafiyah yang diadopsi dari Pesantren Tebuireng oleh KH Ahmad Djazuli Usman adalah nalar fiqh yang mempelajari kitab kitab kuning bermazhab Syafi’i. Maka, tidak heran, jika kemudian di Pesantren Plosomojo fiqh adalah kerangka berpikir dan acuan di dalam menentukan sikap. Setiap hari, pengajian umum dilakukan secara rutin untuk menghatamkan kitab kitab fiqh mazhab Syafi’i seperti Fathul Qarib dan Fathul Mu’in. Di samping kitab kitab besar lainnya untuk kelas Syawir atau musyawarah. Pada tingkat “advance” tersebut, setiap santri Pesantren Plosomojo Kediri sudah dianggap cakap dalam penguasaan kitab kitab fiqh.[Mangiya}.










