Masyarakat Sumatera Selatan mendapat berita duka setelah ulama kharismatik KH Mal An Abdullah wafat. Ulama yang dikenang terbaik pada masanya pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Sumatera Selatan dan terakhir sedang menjabat Rais Syuriah PWNU Sumatera Selatan.
Kiai Mal An, demikian biasa disapa, adalah sosok yang santun dan penuh pengayoman. Beliau dilahirkan di Desa Meranjat, Kabupaten Ogan Ilir. Desa yang dikenal luas di Sumatera Selatan telah melahirkan banyak orang orang alim.
Beberapa jabatan penting dan strategis di birokrasi pernah diemban oleh Kiai Mal An diantaranya adalah Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Patah Palembang, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Selatan dan Ketua Forum Koordinasi Umat Beragama (FKUB) Sumatera Selatan.
Demikian, Kiai Mal An di samping aktif di birokrasi juga aktif di jalur organisasi yang dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat Sumatera Selatan khususnya. Kiai Mal adalah penulis produktif dan melahirkan beberapa karya intelektual berupa buku seperti autobiografi juga buku ulama dan penyebar tarekat As Sammaniyah asal Palembang, Syekh Abdus Somad Al Palimbani, yang meninggal di Thailand. Kiai Mal An dalam penelitian dan rihlahnya telah beberapa kali berziarah ke makam Syekh Abdus Somad tersebut.
Kiai Mal An sebagai akademisi tentu rajin pula mengikuti seminar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai seorang akademisi yang terbiasa dengan pikiran kritis dan objektif, Kiai Mal An tidak mudah terjebak pada konflik. Maka, tidak heran, jika kemudian Kiai Mal An terlibat di dalam FKUB. Sebagai tokoh panutan di Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Selatan, Kiai Mal An sering menjadi tempat bertanya dan rujukan di dalam masalah masalah internal kepengurusan. Kiai Mal An tidak terlibat langsung dalam konflik dan lebih memilih jalan tengah sebagai sikap umumnya kiai kiai NU yang mengedepankan sikap toleransi.
Ulama kharismatik tersebut juga turut berperan aktif ke dalam komunitas komunitas intelektual muda NU. Beliau telah memberi dukungan yang penuh terhadap penulisan kembali sejarah NU di Sumatera Selatan. Sebuah upaya dan capaian terbaik yang ditorehkan pada akhir hayatnya, 29 Mei 2025, pukul 12.18, waktu Palembang. [Mangiya].










