Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
No Result
View All Result

Lingkuan: Warisan Budaya Takbenda Sumatera Selatan

Kamis 10 Juli 2025 | 250710
in Katalog & Resensi

Provinsi Sumatera Selatan memiliki khazanah warisan budaya takbenda tidak sedikit sehingga masih banyak program program kegiatan berbasis budaya yang masih perlu dieksplorasikan. Di antara warisan budaya takbenda di Sumatera Selatan tersebut adalah lingkuan. Tradisi yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Sumatera Selatan sendiri seiring budaya populer yang kian marak.

Lingkuan merupakan tradisi permainan antara bujang-gadis yang diselenggarakan di suatu dusun. Tradisi ini melibatkan kalangan remaja beranjak dewasa yang belum menikah. Meskipun, esensi dari tradisi ini adalah ta’aruf dengan panduan tradisi.

Tradisi ini memiliki beberapa tahapan strukturasi diantaranya adalah:

Andun merupakan tradisi para remaja pranikah mendatangi undangan pesta pernikahan di suatu dusun. Biasanya, remaja pranikah di suatu dusun akan membentuk sebuah kepanitiaan dalam rangka penyelenggaraan sebuah prosesi pernikahan. Struktur kepanitiaan remaja pranikah tersebut dibedakan dengan struktur kepanitian yang diselenggarakan oleh kalangan orang tua. Kepanitiaan remaja pranikah tersebut lalu membuat surat undangan diperuntukkan bagi remaja pranikah di dusun dusun tetangga. Pada hari yang telah ditentukan, remaja remaja pranikah yang diundang akan mendatangi undangan tersebut.

Selain andun, pantun merupakan tradisi yang tidak terpisahkan dari prosesi Lingkuan. Tradisi pantun tidak seperti pada prosesi Palang Pintu ala Betawi. Pantun pada tradisi Lingkuan diselenggarakan jika tamu undangan kalangan remaja pranikah dari berbagai dusun sudah datang. Pada sore hari menjelang Lingkuan, remaja remaja pranikah biasanya melakukan mandi bersama di sungai karena memang kebutuhan sumur belum semarak seperti sekarang. Masyarakat suatu dusun memang menggantungkan hidup dari sungai karena masih bersih dan belum ada pencemaran. Dan, setiap rumah di dusun biasanya pula menyediakan gerigik yang terbuat dari potongan bambu untuk digunakan sebagai sarana pengangkut air. Air tersebut dapat digunakan untuk memasak dan keperluan mendesak pada malam hari.

Pada saat kalangan remaja pranikah tersebut menjelang mandi sore di sungai, maka prosesi berbalas pantun pun berlangsung. Adapun isi pantun tersebut dapat berupa sindiran secara halus untuk sekadar menyatakan perkenalan diri.

Tukar selendang merupakan upaya pengenalan lebih lanjut dalam sebuah prosesi permainan. Permainan ini akan menghukum dua orang pemegang selendang terakhir setelah musik yang mengiring dimatikan oleh operator. Permainan ini melibatkan remaja putera dan puteri parnikah. Adapun bentuk hukuman yang ditimpakan bermacam macam, mulai dari menyanyi, berpantun, atau memperagakan sesuatu.

Terakhir adalah pesta. Pesta perkawinan atau biasa disebut bekejai adalah rangkaian dari walimatul ‘ursy ketika sepasang pengantin yang sudah diakadnikahkan duduk bersanding di pelaminan. Pada malam bekejai, sepasang pengantin tersebut akan hadir dan duduk di kursi pelaminan. Sementara tamu tamu undangan akan duduk berbaris di kursi tamu yang telah disediakan oleh panitia. Keutamaan dari tradisi Lingkuan ini diselenggarakan dalam tata krama tradisi, terutama gotong royong, saling mengenal warga antardusun, serta kesantunan dalam bertutur kata.

Tags: Kota LubuklinggauLingkuanSumatera Selatan
Previous Post

Mengapa Belajar di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau?

Next Post

Minat Peserta Didik Meningkat, SD Al Furqon Lubuklinggau Atur Strategi Pembelajaran

Next Post

Minat Peserta Didik Meningkat, SD Al Furqon Lubuklinggau Atur Strategi Pembelajaran

Betangas, Tradisi Pingit Berbalut Rempah

Pesantren Al Furqon Lubuklinggau

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT

Navigasi Situs

  • • Kebijakan Privasi
  • • Pedoman Siber

Ikuti Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT