Kemajuan studi seorang santri di sebuah pesantren di masa teknologi saat ini, mau tidak mau, harus didukung oleh kerangka sistem kerja dan sistem berpikir yang sistematis, logis, dan kritis.
Dengan menggunakan modul berbasis literasi, riset, dan teknologi, Pesantren Al Furqon Lubuklinggau melalui lembaga lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya telah memiliki kerangka sistem kerja dan sistem berpikir tersebut. Dengan demikian, sebagaimana adagium yang sering didengungkan oleh para ulama, al muhafadhah ‘alal qadim al salih wal akhdzu bi al jadid al aslah, dapat diimplementasikan dengan baik. Guna memelihara tradisi yang masih baik serta mengambil orientasi yang terbaik dari realitas kemajuan zaman kini dan di sini memang diperlukan langkah langkah metodik yang sistematis, logis, dan keritis. Dengan demikian, kemajuan sebuah pesantren akan dapat diukur jika dilihat dari program program yang sudah dan sedang berjalan.
Kemajuan Tradisi Pesantren
Kemajuan pesantren di Indonesia pada umumnya masih mengedepankan tradisi sastra dan susastra. Sastra yang dimaksud adalah pelestarian kitab kitab kuning, bahasa sehari hari yang khas, dan sebuah tatanan kehidupan sosial pesantren yang terstruktur dengan baik. Dari sastra tersebut kemudian mereproduksi menjadi susastra sebagaimana karya karya para kiai dan santri, baik yang tertulis maupun tidak, hingga berkembang menjadi budaya.
Karya karya para kiai dan santri tersebut diawali dari proses menghafal ayat ayat Al Quran, nadham dan nagham, dilanjutkan dengan pola penyampaian pendidikan dan pengajaran di kelas, masjid, dan aktivitas aktivitas sosial-ekonomi lainnya. Maka, dapat dikatakan, jika para kiai dan santri santrinya merupakan “teks hidup” yang digali dari proses membaca kitab kitab suci Al Quran, hadis, dan karya karya ulama terdahulu secara berkesinambungan dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, kemajuan tradisi di pesantren dapat diukur dengan baik melalui program program aktivitas para kiai dan santri santrinya.
Langkah Langkah Metodik
Literasi, riset, dan teknologi merupakan tiga langkah implementatif di dalam mengejawantahkan cita cita dan kemajuan studi di Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Landasan dasar pendidikan pesantren yang telah dicita-citakan oleh pendirinya, KHA Zahruddin Syambasi, dapat dijadikan sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Sebagaimana kehidupan KHA Zahruddin Syambasi merupakan teks berjalan yang mengejawantahkan sumber sumber ilmu dan pengetahuan yang diambil dari Al Quran, hadis, dan karya karya ulama. Dari KHA Zahruddin Syambasi tersebut, tercipta tatanan masyarakat di sekitar Pesantren Al Furqon Lubuklinggau yang dapat dikatakan sebagai novum budaya tersendiri.
Hal tersebut memang tidak serta merta menjadikan Pesantren Al Furqon Lubuklinggau sebagai sebuah pesantren yang memiliki ciri khas tersendiri sebagaimana pondok pondok pesantren pada umumnya yang mencitrakan diri dengan label label tertentu. Misal, pondok pesantren dengan ciri khas modern untuk pesantren bahasa, pondok pesantren salaf dengan ciri khas kitab kitab fikih, atau pondok pesantren yang mengkhususkan pada ciri khas tahfidz bagi pesantren penghafal Al Quran. Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dengan novumnya telah melahirkan tradisi sekaligus ciri khas tersendiri dengan titik tolak yang berangkat dari sebuah metodologi. Bagaimana sebuah metode dapat memecahkan berbagai masalah sesuai dengan bidang bidangnya.
Capaian Pembelajaran
Harapan tersebut menggambarkan: Pesantren Al Furqon Lubuklinggau tidak menekankan pada spesialisasi tertentu. Dengan langkah langkah metodik tersebut diharapkan santri santri Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dapat mengembangkan minat dan bakatnya sendiri di kemudian hari. Dengan bekal literasi (membaca dan memahami), riset (menulis dan meneliti), hingga ke tahap melahirkan sebuah produk dengan memanfaatkan teknologi. [Cah Bagus].










