Dulu, KHA Zahruddin Syambasi pernah mengartikan kata “pesantren” sebagai “pesan yang mengikuti tren”. artinya, pesan pesan agama yang disampaikan secara berulang ulang dengan media yang bisa berbeda sesuai zamannya. Jika dulu, orang hanya mengenal media batu dan kapur untuk menulis, maka zaman sekarang orang sudah menggunakan media “handphone” dan gawai.
Demikian, pada saat orang baru belajar sastra Indonesia tanpa disadari akan langsung dikenalkan dengan sastra Chairil. Sastra yang mengikuti gaya Chairil Anwar. Padahal, pengertian sastra menurut bahasa aslinya, Sansekerta, berarti “sas” (pesan yang memuat pedoman hidup) dan “tra” yang berarti alat. Jadi, sastra adalah alat, sarana, atau wahana yang dijadikan sebagai media untuk menyampaikan pesan atau pedoman, terutama hukum hukum agama.
Sastra Gunung dan Sastra Laut
Sebelum mengenal aksara, manusia yang mendiami kepulauan Nusantara hanya mengenal dua model sastra, gunung dan laut. Sebagaimana sastra merupakan alat atau wahana untuk menyimpan pesan dan pedoman, baik pikiran maupun perasaan, maka gunung dan laut merupakan wahana atau media yang paling tepat. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat. Pikiran dan perasaan manusia zaman dahulu dicurahkan melalui ornamen susunan batu batu gunung yang menyerupai istana bak taman surga. Sementara sastra laut diwakili oleh La Galigo, sastra lisan turun menurun yang menceritakan asal muasal kejadian alam dari laut. Sastra La Galigo yang terdapat di Sulawesi bagian Selatan ini sudah ada sebelum kebudayaan Hindustan (Tanah Hindu) mewarnai sastra Nusantara.
Capaian Aksara
Capaian manusia yang mendiami kepulauan Nusantara mengalami kemajuan setelah mengenal sastra huruf atau sastra aksara sebagai media. Sebagaimana huruf berarti “lambang bunyi” yang memuat makna pesan atau pedoman. Huruf atau aksara tersebut digunakan juga sebagai alat komunikasi. Adapun huruf huruf yang dikenal tersebut adalah Kaganga, Pallawa, dan Sansekerta. Aksara Kaganga masih menjadi perdebatan para sarjana, apakah asli Nusantara atau didatangkan dari Tanah Hindu, India. Aksara Kaganga tersebar di Sumatera, Jawa, hingga Filipina.
Capaian berikutnya adalah perkawinan antara Aksara Kaganga dan Aksara Sansekerta yang melahirkan Aksara Kawi oleh manusia yang mendiami kepulauan Nusantara. Aksara Kawi digunakan untuk menyampaikan pesan pesan Syiwa, Wisnu, Brahma, hingga Buddha.
Pada fase sejarah berikutnya, terjadi perkawinan lagi antara Aksara Kawi dengan budaya muslim yang datang ke Nusantara. Aksara Kawi ini masih digunakan oleh kerajaan kerajaan yang sudah mulai memeluk Islam seperti karya karya Sultan Agung yang masih menggunakan Aksara Kawi tersebut.
Pada masa pesantren pesantren mulai menggantikan posisi Tanah Sima (Simha atau Singha) sebagai Tanah Otonom atau Tanah Perdikan (Merdikan/Merdeka), Aksara Arab mulai digunakan. Perkawinan antara Aksara Arab dan budaya Nusantara mulai terjadi. Di wilayah Sumatera, dikenal kemudian dengan Aksara Arab-Melayu atau Aksara Pegon di wilayah Pulau Jawa.
Sastra Chairil
Kedatangan suku-bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda) ke Nusantara memperkenalkan Aksara Latin untuk digunakan sebagai alat komunikasi dan menyampaikan pesan pesan dan pedoman. Hal ini dapat dilihat dari hukum hukum Belanda yang menggunakan Aksara Latin untuk menetapkan pemerintahannya.
Pada masa sebelum Indonesia diproklamasikan, penggunaan Aksara Latin mulai difungsikan melalui penerbitan Balai Pustaka. Melalui penerbitan ini, masyarakat Nusantara kemudian mulai meninggalkan Aksara Kawi dan Pegon. Meskipun, di pesantren pesantren, Aksara Pegon masih digunakan hingga sekarang. Dan, masyarakat Indonesia lebih mengenal tokoh tokoh sastra mereka seperti HB Jasin dan Chairil Anwar.










