Memilah Sastra
Dalam rentang masa yang panjang, manusia coba mengenal sastra sebagai alat penyampai pedoman. Baik pedoman dalam berhukum maupun pedoman dalam berkeindahan. Pada taraf berkeindahan tersebut, manusia kemudian menemukan puncak estetikanya. Misal, manusia mungkin sama dengan binatang yang melakukan kegiatan kegiatan umum seperti makan dan berkembang biak, namun yang membedakan adalah pada aspek etika yang dibalut ke dalam sebuah estetika. Binatang bisa saja melakukan hubungan badan di mana pun dan kapan pun, namun manusia dengan etika dan estetikanya memerlukan tempat dan waktu yang khusus, yang kadang diatur dalam sebuah kitab khusus pula.
Sastra juga tidak memiliki pengertian yang sederhana, meskipun pada dasarnya adalah sederhana. Artinya, sastra bisa memiliki bahasa sederhana yang lugas namun sekaligus memiliki pemahaman dan penafsiran yang mendalam. Memerlukan energi untuk memahaminya.
Dengan begitu banyaknya jenis jenis sastra, maka harus ada upaya untuk memilahnya. Apalagi di tengah zaman yang memiliki banyak media seperti saat ini. Sehingga sastra akhirnya tetap memiliki perannya sebagai alat, media, atau wahana yang digunakan untuk menyampaikan pesan pesan pedoman hidup.
Materi Fisik Sastra Pesantren
Meskipun keindahan tidak perlu didefinisikan namun orang masih memerlukan ciri cirinya. Ciri keindahan itu secara fisik.
Di satu sisi, keindahan itu tidak bisa didefenisikan secara verbal karena setiap orang memiliki standar dan sudut pandang sendiri sendiri. Sementara pada sisi yang lain, keindahan itu pun perlu dinyatakan seperti ungkapan kata kata ketika melihat sebuah ketakjuban pada pelangi.
Jika demikian, bagaimanakah orang orang pesantren menyatakan ketakjuban itu? Dan, dengan materi apa ketakjuban itu dinyatakan? Siapakah mereka orang orang pesantren itu?
Untuk menjawab itu, maka diperlukan kritik, bahwa manusia pesantren itu memang ada dan memiliki karya karya yang nyata.
Jenis Jenis Sastra Pesantren
Islam datang dari Tanah Arab. Maka, untuk mengenal Sastra Pesantren perlu juga memahamai Sastra Arab dan dalam proses apa mengadopsinya. Namun, pesantren memiliki ciri khas tersendiri meskipun memiliki banyak kesamaan kesamaan dengan lembaga lembaga pendidikan lainnya seperti skolastik di Eropa, asrama di India, atau sima di Jawa. Dari segi bentuk, Sastra Pesantren memiliki kesamaan kesamaan dengan model sastra lainnya yang pada umumnya dikelompokkan pada tiga bidang: puisi, prosa, dan drama. Yang perlu diperhatikan kemudian: adakah bentuk bentuk baru dari tiga model sastra tersebut sebagai turunannya?
Dari aspek aksara, akulturasi telah melahirkan bentuk bentuk baru sebagaimana Aksara Pegon atau Arab-Melayu. Begitu pula, dari aspek prosa dan drama yang bisa diambil dari kisah kisah dan pementasan wayang yang penuh makna. Meskipun, wayang itu sudah ada sebelum Islam dipeluk oleh orang Jawa, tapi wayang tersebut menemukan bentuk baru di tangan orang orang pesantren. Begitu pula, sebelum rima dan pantun menjadi ciri baru, juga sudah ada pada masa sebelumnya pada masyarakat Melayu. Dan, seperti manusia biasa pada umumnya, manusia pesantren juga memerlukan untuk menyatakan dirinya dengan beragam berntuk dan jenis karyanya










