Sejak ditemukan Aksara Kaganga di Bukit Sulap, Kota Lubuklinggau layak untuk menyandang gelar sebagai Kota Aksara. Sebagaimana aksara merupakan intangible yang menjadi milik kolektif komunitas masyarakat Kota Lubuklinggau yang diakui dunia. Dengan ditemukan Aksara Kaganga tersebut, telah menandakan Kota Lubuklinggau sebagai kota beradab, kota yang berbudaya tinggi. Dan, tidak semua suku-bangsa di dunia memiliki aksara. Warga Kota Lubuklinggau sudah sepatutnya berbangga diri dengan capaian tertinggi di bidang budaya tersebut.
Aksara, Abjad, atau Alfabet Kaganga merupakan produk asli Nusantara. Meskipun, ada pendapat yang mengatakan jika aksara tersebut merupakan anak turun dari Aksara Brahmi yang diimpor dari India. Aksara Kaganga tersebar luas dari ujung Sumatera hingga Filipina. Di beberapa tempat, corak dan simbolnya sedikit mengalami variasi. Namun, dapat dikenali jika aksara variasi tersebut memiliki dasar Kaganga.
Memang, kebanyakan sarjana mengungkapkan keterikatan budaya India dan Nusantara begitu erat sehingga selalu dikaitkan dengan budaya (H)industan yang datang dari (H)india. Nemun, setidaknya, dapat diteliti lebih lanjut, sejauh manakah keterkaitan dan keterikatan tersebut? Apakah hanya sebatas pada aksara belaka sementara kehidupan sosial di Sumatera hampir tidak mengenal struktur kasta sebagaimana di India dan Jawa Tengah?
Pola pola keterikatan budaya India dan khususnya bagian ulu Sumatera Selatan hampir tidak terlihat. Dapat dibandingkan dengan struktur sosial yang terdapat di sekitar Candi Borobudur dan Prambanan.
Pola struktur sosial masyarakat ulu Sumatera Selatan yang cenderung bebas, tanpa mengenal kasta hanya meyakini adanya nenek ma-hyang (moyang) yang bersemayam di air/laut dan pu-hyang (puyang) yang bersemayam di gunung. Masyarakat ulu Sumatera Selatan meyakini, puyang adalah leluhur yang menjelma menjadi harimau dan bersemayam di puncak/lereng gunung Dempo (Da mPu Hyang). Sebagai gunung tertinggi di Sumatera Selatan, di ulu sungai Musi terdapat banyak peninggalan batu beraksara atau dikenal dengan sebutan Surat Ulu. Sementara di lereng dan puncak Gunung Dempo, banyak terdapat batu batu peninggalan masa Megalitikum.
Bukit Sulap yang berada di Lubuklinggau merupakan rangkaian Gunung Barisan yang memanjang dari ujung Utara hingga Selatan pulau Sumatera. Setidaknya, Bukit Sulap sudah memiliki denyut nadi kehidupan dalam sepanjang sejarah manusia.










