Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
No Result
View All Result

Kisah KHA Zahruddin Syambasi dan Tempelengan Mbah Jogorekso

Jumat 18 Juli 2025 | 250718
in Album

Kisah tentang tempeleng (Lubuklinggau: tempiling) Gus Jogorekso sudah sering terdengar atau tertulis di media sosial. Seperti kisah Gus Jogo menempeleng Gus Miek (KH Chamim Djazuli) sampai tiga kali. Namun, kisah kemasyhuran Mbah Jogo pernah diceritakan oleh KHA Zahruddin Syambasi.

Seperti biasa, menjelang sore hingga surub malam, KHA Zahruddin Syambasi sering duduk duduk di teras, di atas kursi rotan kesayangannya. Kursi rotan itu, setiap rusak akan selalu diperbaiki lagi. Menjelang sore itu,  biasanya ada saja tamu yang datang untuk sekadar bercengkerama dan bersilaturahim.

Pada masa muda, sebelum menetap di Lubuklinggau, KHA Zahruddin Syambasi  adalah seorang santri tulen. Dia sering melakukan perjalanan lelana setelah mesantren di Plosomojo, Kediri. Lelana ini biasa dilakukan oleh santri santri zaman dahulu dari pesantren ke pesantren. Memohon keberkahan kepada banyak guru dan kiai. Apalagi kepada wali wali masyhur.

Mbah Jogorekso atau Gus Jogo tinggal di Gunungpring, Magelang. Sejak kecil, sudah memiliki keistimewaan. Dia tidak pernah keluar dari rumahnya. Dia hanya dijaga oleh ibunya. Dia diberi nama Jogo oleh ayahnya, KH Harun, karena didoakan akan menjadi penjaga alam.

Kewalian Mbah Jogo yang masyhur itulah yang menarik minat KHA Zahruddin Syambasi  untuk datang, sowan, ke Gunungpring. Bersama dua orang temannya, Moh Ishom dan Fulan yang tak disebutkan namanya, KHA Zahruddin Syambasi  pergi menghadap Mbah Jogo di Gunungpring. Waktu itu, Mbah Jogo berada di rumah seperti biasanya. KHA Zahruddin Syambasi  dan teman temannya disambut langsung oleh ibunya. Mungkin, pada saat itu, Mbah Jogo belum terlalu masyhur sehingga masih jarang orang yang datang sowan kepadanya. Zahruddin muda bersama kedua temannya langsung dipersilakan duduk di tikar oleh ibu Mbah Jogo, sementara Mbah Jogo sendiri duduk tafakur dengan mulut yang tak berhenti komat kamit berzikir.

Mbah Jogo memang jarang berbicara atau mungkin juga tidak berbicara selama hidupnya. Hanya ibunya yang mengerti bahasa dan isyarat yang diberikannya. Jari jemari tangannya pun tak berhenti memutar tasbih.

Pada saat itu, KHA Zahruddin Syambasi dan Moh Ishom yang duduk bersebelahan hanya disebul oleh Mbah Jogo, sedangkan si Fulan yang hadir langsung kena Ketupat Bengkulu. Sebanyak tiga kali, perlakuan Mbah Jogo demikian.

Setelah tiga kali, KHA Zahruddin Syambasi  dan teman temannya pun dipersilakan pulang oleh Ibu Mbah Jogo.

Isyarat apa gerangan yang terjadi kemudian?

Walhasil, si Fulan yang memiliki kebiasaan buruk itu tertangkap sedang mencuri ayam. Dia pun dihakimi oleh massa hingga tak bernyawa.

KHA Zahruddin Syambasi menutup ceritanya.

Tags: Gus JogoJogoreksoMagelangMbah Jogo
Previous Post

Why Green Chemistry Matters

Next Post

Mengenal Sastra dari Aksara

Next Post

Mengenal Sastra dari Aksara

Kritik Sastra Pesantren: Sebuah Rintisan

Pesantren Al Furqon Lubuklinggau

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT

Navigasi Situs

  • • Kebijakan Privasi
  • • Pedoman Siber

Ikuti Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT