Kisah tentang tempeleng (Lubuklinggau: tempiling) Gus Jogorekso sudah sering terdengar atau tertulis di media sosial. Seperti kisah Gus Jogo menempeleng Gus Miek (KH Chamim Djazuli) sampai tiga kali. Namun, kisah kemasyhuran Mbah Jogo pernah diceritakan oleh KHA Zahruddin Syambasi.
Seperti biasa, menjelang sore hingga surub malam, KHA Zahruddin Syambasi sering duduk duduk di teras, di atas kursi rotan kesayangannya. Kursi rotan itu, setiap rusak akan selalu diperbaiki lagi. Menjelang sore itu, biasanya ada saja tamu yang datang untuk sekadar bercengkerama dan bersilaturahim.
Pada masa muda, sebelum menetap di Lubuklinggau, KHA Zahruddin Syambasi adalah seorang santri tulen. Dia sering melakukan perjalanan lelana setelah mesantren di Plosomojo, Kediri. Lelana ini biasa dilakukan oleh santri santri zaman dahulu dari pesantren ke pesantren. Memohon keberkahan kepada banyak guru dan kiai. Apalagi kepada wali wali masyhur.
Mbah Jogorekso atau Gus Jogo tinggal di Gunungpring, Magelang. Sejak kecil, sudah memiliki keistimewaan. Dia tidak pernah keluar dari rumahnya. Dia hanya dijaga oleh ibunya. Dia diberi nama Jogo oleh ayahnya, KH Harun, karena didoakan akan menjadi penjaga alam.
Kewalian Mbah Jogo yang masyhur itulah yang menarik minat KHA Zahruddin Syambasi untuk datang, sowan, ke Gunungpring. Bersama dua orang temannya, Moh Ishom dan Fulan yang tak disebutkan namanya, KHA Zahruddin Syambasi pergi menghadap Mbah Jogo di Gunungpring. Waktu itu, Mbah Jogo berada di rumah seperti biasanya. KHA Zahruddin Syambasi dan teman temannya disambut langsung oleh ibunya. Mungkin, pada saat itu, Mbah Jogo belum terlalu masyhur sehingga masih jarang orang yang datang sowan kepadanya. Zahruddin muda bersama kedua temannya langsung dipersilakan duduk di tikar oleh ibu Mbah Jogo, sementara Mbah Jogo sendiri duduk tafakur dengan mulut yang tak berhenti komat kamit berzikir.
Mbah Jogo memang jarang berbicara atau mungkin juga tidak berbicara selama hidupnya. Hanya ibunya yang mengerti bahasa dan isyarat yang diberikannya. Jari jemari tangannya pun tak berhenti memutar tasbih.
Pada saat itu, KHA Zahruddin Syambasi dan Moh Ishom yang duduk bersebelahan hanya disebul oleh Mbah Jogo, sedangkan si Fulan yang hadir langsung kena Ketupat Bengkulu. Sebanyak tiga kali, perlakuan Mbah Jogo demikian.
Setelah tiga kali, KHA Zahruddin Syambasi dan teman temannya pun dipersilakan pulang oleh Ibu Mbah Jogo.
Isyarat apa gerangan yang terjadi kemudian?
Walhasil, si Fulan yang memiliki kebiasaan buruk itu tertangkap sedang mencuri ayam. Dia pun dihakimi oleh massa hingga tak bernyawa.
KHA Zahruddin Syambasi menutup ceritanya.










