Seperti pesantren pada umumnya, KHA Zahruddin Syambasi telah mewariskan kitab-kitab kuning standar seperti Al Um karya Imam Al Syafi’i. Imam besar mazhab yang dianut banyak umat Islam di Indonesia. Imam Al Syafi’i adalah peletak dasar teori hukum Islam. Selain kitab Al Um, KHA Zahruddin Syambasi juga mewariskan kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al Ghazali. Guru besar tasawuf yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia. Juga, kitab Faraidul Bahiyyah, komplementer yang merangkum beragam teori atau kaidah fikih. KHA Zahruddin Syambasi semasa hidupnya memang gemar membeli kitab kitab kuning untuk keperluan pengajaran dan dakwahnya.
KHA Zahruddin Syambasi juga telah mewariskan kitab-kitab kuning kecil lainnya seperti Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan Sullamut Taufiq. Menjelang wafatnya, ia sempat mengajarkan kitab Sullamut Taufiq tersebut kepada santri santri yang mesantren di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Tidak kurang dari 30 orang santri yang mukim ketika itu. Meskipun, ia tahu, santri santri tersebut belum memiliki kapasitas untuk melek kitab kuning. Namun, secara esensi, inti pengajaran dan substansi kitab tersebut harus disampaikan agar bisa diamalkan dalam kehidupan sehari hari.
Dalam tradisi pesantren, menyimak sebuah pengajian memang sangat dianjurkan agar memperoleh berkah, terutama berkah ilmu. Tidak ada syarat dan prasyarat yang menekankan bahwa seorang penyimak (mustami’) harus bisa membaca. Cukup hanya dengan menyimak saja, sudah merupakan keberkahan. Apalagi si penyimak itu sudah bisa membaca kitab dan mengartikan sendiri setiap tulisan yang tertera. Tradisi menyimak atau dalam bahasa sekarang listening bukan sesuatu yang asing. Dengan senantiasa membiasakan diri untuk menyimak, daya ingat akan lebih tajam. Pancaindera akan merekam kata demi kata dari yang mendengarkannya.
Di samping itu, menyimak melatih kesabaran seseorang untuk menerima keadaan yang sebenarnya tidak perlu memengaruhinya. Kesabaran itu senantiasa akan membimbing hati agar kehidupan berjalan normal. Kesabaran pula yang akan menuntun manusia kepada jalan yang diridai Allah. Terpukau pada dunia yang bersifat sementara hanya akan membebani beban pikiran dan emosi.










