
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang telah dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI telah disambut baik oleh Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, salah satunya melalui divisi pendidikan RA Al Furqon Lubuklinggau.
Tema yang termuat dalam Buku Panduan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (2025) yang diterbitkan oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI menyebutkan: bangsa Indonesia, khususnya lembaga kependidikan, telah menemui tantangan global melalui dehumanisasi yang sedang menjadi isu sentral. Beberapa fakta seperti normalisasi dehumanisasi, pembenaran genosida, atau pelanggaran hak asasi manusia masih sering terjadi. Begitu pula, tantangan lokal sedang tumbuh subur isu-isu seperti intoleran di masyarakat. Di dalam instansi pendidikan juga sedang marak terjadi isu minor seperti perundungan. Dalam beberapa kesempatan, Manteri Agama RI telah menanggapi fenomena dehumanisasi tersebut. Menag berprinsip bahwa humanity is only one (Rani, 2024; Yaputra, 2024) sehingga peran pemberdayaan umat difokuskan pada basis kemanusiaan dan harmoni kehidupan yang keduanya dieratkan oleh dasar cinta.
Dalam konteks dehumanisasi ini, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA, kemudian menggagas Kurikulum Berbasis Cinta sebagai tawaran solusinya.
Adapun maksud dan tujuan dari tema Kurikulum Berbasis Cinta tersebut adalah “menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat, pemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing global.” Sehingga dapat dimaksimalkan “Untuk menunjang visi Indonesia Emas, diperlukan pengembangan SDM yang memiliki daya saing global, tidak hanya secara intelektual, tetapi memiliki moralitas tinggi, integritas, dan keterampilan untuk menghadapi tantangan.”
Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau telah menyiapkan kisi kisi penerapan diantaranya melalui RA Al Furqon Lubuklinggau sebagaimana literasi (meliputi baca tulis, berhitung, dan penerapan praktik praktik agama) telah mengenalkan bahasa Al Quran, kitab kuning, dan bahasa asing sejak dini. Aspek aktualisasi kehidupan sehari hari RA Al Furqon Lubuklinggau sebagaimana sholat berjamaah dan sedekah telah menjadi fondasi yang kuat bagi mental-spiritual peserta didik dan santri santri Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau secara umum.
Dengan demikian, tema yang termuat dalam Panduan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang mengusung: pemahaman tentang pentingnya menanamkan nilai-nilai cinta dalam pendidikan di madrasah; Menyediakan strategi dan langkahlangkah konkret dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah; serta membantu guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran dan interaksi di madrasah dapat diterapkan secara maksimal di RA Al Furqon Lubuklinggau.[Mangiya].










