Literasi dan riset merupakan basis pendidikan dan pembelajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Sejak dini, peserta didik dan santri yang mengikuti salah satu divisi pendidikan dan pembelajaran akan dikenalkan pada objek objek penelitian yang dekat dengan lingkungan. Hal tersebut akan mendorong setiap peserta didik dan santri Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dapat mempertimbangkan keuntungan keuntungan pendidikan dan pembelajaran berbasis lingkungan. Sebagaimana dikutip dari Husamah (2013), pendidikan dan pembelajaran berbasis lingkungan memiliki keuntungan keuntungan antara lain: (1) dapat menghemat biaya ketika melakukan praktikum, karena dapat memanfaatkan benda benda yang telah tersedia; (2) praktis dan mudah dilakukan, karena mengamati benda benda yang ada di sekitar; (3) memberikan pengalaman yang nyata kepada peserta didik sehingga menjadi lebih konkrit, tidak bersifat verbalistik; (4) sesuai dengan konsep pembelajaran kontekstual (contextual learning) karena benda benda berasal dari lingkungan yang dekat sehingga lebih sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan; (5) pelajaran lebih aplikatif, melalui media lingkungan kemungkinan besar akan dijumpai benda benda atau peristiwa serupa dalam kehidupannya sehari hari. (6) media lingkungan memberikan pengalaman yang tidak jauh kepada peserta didik sehingga dapat berinteraksi secara langsung dengan benda, lokasi, atau peristiwa sesungguhnya; (7) lebih komunikatif, yaitu benda dan peristiwa yang ada di lingkungan peserta didik dapat lebih mudah dicerna oleh peserta didik, dibandingkan dengan media yang dikemas (didesain).
Berangkat dari keuntungan keuntungan pendidikan dan pembelajaran berbasis lingkungan tersebut, setiap peserta didik yang mengikuti salah satu divisi pendidikan dan pembelajaran di Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dapat lebih cepat menyerap pengetahuan. Dan, melalui proses riset, pengetahuan tersebut dapat menjadi ilmu. Oleh karena itu, dorongan survival dengan memanfaatkan ruang menjadi lebih realistis daripada sistem pengajaran yang hanya menggunakan sistem verbal. Bagaimana pun, tindakan dan praktikum akan lebih cepat dicerna dan dimengerti oleh setiap peserta didik.
Di samping, dorongan survival tersebut dapat mengajarkan setiap peserta didik untuk mandiri dan tidak mudah tergantung, sebab tidak semua orang akan dihadiahkan kemudahan kemudahan selama menuntut ilmu. [Mangiya].










