Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
No Result
View All Result

Betangas, Tradisi Pingit Berbalut Rempah

Jumat 11 Juli 2025 | 250711
in Katalog & Resensi

Pingit atau pingitan merupakan tradisi yang umum di masyarakat Nusantara. Tradisi ini biasa diselenggarakan tiga hari menjelang upacara akad pada pernikahan. Tujuan pingit adalah untuk menetralisir dan membersihkan calon pengantin dari ekses ekses negatif, baik yang bakal muncul menjelang pernikahan maupun setelah mengarungi biduk rumah tangga. Tradisi pingit ini dapat menjadi indikasi akan kesakralan dan kesucian pernikahan itu sendiri sebagaimana perbuatan halal yang dibenci Allah Taala adalah perceraian. Maka, ekses ekses negatif dalam pergaulan pada masyarakat adalah tabu untuk dilakukan.

Namun demikian, selingkuh bukan saja telah menjadi fenomena sosial yang baru ketika ketika kesetiaan yang dibangun melalui tradisi pingit dalam pernikahan tidak lagi menjadi sakral. Sehingga mengenal kembali prosesi suci Betangas dapat menjadi informasi penting bagi keberlangsungan dan keutuhan sebuah biduk rumah tangga yang senantiasa didoakan orang banyak, mawaddah wa rahmah, hingga akhir hayat.

Betangas merupakan tradisi masyarakat Melayu yang diselenggarakan serupa pingit di Jawa. Betangas dilakukan oleh sepasang calon pengantin dengan mengurung diri dari pergaulan luar. Selama mengurung diri tersebut, sepasang calon pengantin tidak saja memutus hubungan luar, melainkan meningkatkan kebersihan diri dengan cara bermandi uap rempah dan berpuasa.

Kekuatan Tradisi

Budaya masyarakat akan diperkuat oleh tradisi yang berlangsung. Nilai nilai luhur tersebut diwujudkan ke dalam bentuk pola hidup dan daur hidup. Nilai nilai luhur yang tersimpan dalam prosesi Betangas dapat dilihat dari tujuannya seperti memutus hubungan luar untuk sementara. Ketika melakukan prosesi Betangas, sepasang calon pengantin dianjurkan untuk melakukan ritual ritual tertentu seperti berpuasa dan selalu berpikiran positif untuk kelangsungan rumah tangga yang sudah di depan mata. Selama menjalani prosesi Betangas tersebut, sepasang calon pengantin tidak boleh keluar kamar kecuali hanya untuk kondisi darurat.

Menghambat Ekses Negatif Budaya Masyarakat

Secara simbolik, prosesi suci Betangas berfungsi untuk menolak ekses ekses negatif seperti gangguan luar. Di dalam hukum Islam misalnya seorang wanita yang sudah dilamar (khitbah) sangat dilarang bagi pihak lain untuk mengganggunya. Karena, pernikahan yang diawali oleh khitbah tersebut merupakan prosesi suci yang tak dapat diganggu gugat dalam bentuk apapun. Begitu pula, ekses ekses negatif dalam bentuk yang lain. Lamanya dan panjangnya prosesi tradisi Betangas ini dapat menangkis ekses ekses budaya yang mulai cenderung negatif.

Komoditas yang Menguntungkan

Di samping sebagai ritual suci menjelang memasuki gerbang pintu pernikahan, rempah yang digunakan untuk Betangas dapat pula menjadi komoditas yang menguntungkan apabila dikelola secara ekonomis. Kebutuhan masyarakat modern untuk tampil menarik dan wangi dapat memilih Betangas sebagai alternatif mandi uap atau spa dengan biaya yang relatif lebih murah karena bahan rempah yang diperlukan mudah didapat dan menjadi tanaman pekarangan rumah. Bahan bahan rempah tersebut seperti seperti serai wangi, cengkih, daun pandan, daun kunyit, langir, adas manis, daun dan kulit jeruk purut adalah tanaman yang biasa digunakan oleh masyarakat Lubuklinggau sebagai bumbu masak sehari hari.

Continue Reading
Tags: BetangasKota Lubuklinggau
Previous Post

Minat Peserta Didik Meningkat, SD Al Furqon Lubuklinggau Atur Strategi Pembelajaran

Next Post

Penerbit Madrasatul Furqon

Next Post

Penerbit Madrasatul Furqon

Mengenang Umah Dusun (1)

Pesantren Al Furqon Lubuklinggau

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT

Navigasi Situs

  • • Kebijakan Privasi
  • • Pedoman Siber

Ikuti Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT