Jalinan kekeluargaan antara Pesantren Al Furqon Lubuklinggau dengan pesantren pesantren di Jawa memiliki latar belakang historis yang luas. Hal ini disebabkan karena memiliki hubungan erat berupa perkawinan, guru dan murid, persahabatan sesama santri, atau jam’iyah.
Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi para kiai pesantren dan memiliki jama’ah terbesar di Indonesia. Dan, kerawuhan Mustasyar PBNU, KHA Mustofa Bisri, ke Pesantren Al Furqon Lubuklinggau didasarkan pada hubungan jam’iyah NU, ukhuwah al Nahdliyah, dan juga kekeluargaan. Maka tidak heran, jika keakraban kemudian terjalin dengan erat.
KHA Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus bukan tokoh NU yang pertama datang ke Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Pesantren yang berlokasi di Jalan Sejahtera, RT 002, Kelurahan Tabajemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, Kota Lubuklinggau, itu sebelumnya pernah dikunjungi oleh KH Ma’ruf Amin, Rois Aam PBNU; KHA Musta’in Syafi’ie, Mudir I Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng sekaligus Ketua Majelis Ilmi PP JQHNU; KHM Adib Zen, Sekjen PP Jam’iyah Aliththariqah an-Nahdliyah (Jatman); serta Zastrouw Al Ngatawi dan Gus Muwafiq, budayawan nasional NU. Tentu, kunjungan tersebut merupakan kehormatan dan anugerah yang sangat besar untuk disyukuri oleh Keluarga Besar Pesantren Al Furqon Lubuklinggau. Karena, kunjungan tersebut lebih menyentuh pada aspek silaturahim yang paling dalam.
Kunjungan KHA Mustofa Bisri pada 13 Januari 2018 yang lalu tidak saja disambut hangat oleh santri santri Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, melainkan juga oleh sesepuh NU Kabupaten Musirawas, Kiai Priyanto, segenap jajaran pengurus PCNU Kota Lubuklinggau, serta masyarakat umum di lingkungan pesantren. KHA Mustofa Bisri pada pengajian yang diselenggarakan di Masjid Al Furqon tersebut memberi banyak wejangan dan wasiat. Terutama, peran Pesantren Al Furqon Lubuklinggau di dalam komitmen budaya untuk melestarikan tradisi pesantren serta meningkatkan harkat dan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Tentu, amanat dan wasiat tersebut sangat berat untuk diemban, namun berkat doa doa sesepuh amanat tersebut semoga dapat lebih ringan dan memiliki dampak manfaat dan mashlahat bagi nusa dan bangsa, [Mangiya}.










