Asal Usul Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan otonom yang didirikan oleh para kiai. Cikal bakal kultur pesantren sudah ada sejak kebudayaan lain belum datang ke Nusantara. Sebagaimana masyarakat Nusantara yang memiliki keyakinan kepada Tuhan yang mengawali sastranya melalui laut dan gunung. Dua tempat yang diyakini memiliki tuah kesucian. Maka, tradisi Larung, baik di gunung maupun di laut, bagi masyarakat Nusantara masih dapat dijumpai hingga saat ini. Tradisi Larung atau Persembahan ini merupakan Syariat Nabi Adam as kepada dua orang puteranya, Qabil dan Habil. Keduanya diperintahkan untuk melakukan Larung dari hasil tanaman dan ternak mereka.
Dalam kepercayaan masyarakat Nusantara, terdapat tempat tempat Larangan yang dianggap suci. Dari beberapa prasasti disebutkan tentang tempat tempat Larangan. Tempat tempat Larangan tersebut pada masa pemerintahan kerajaan muslim di Jawa dinamakan Tanah Perdikan. Tanah bebas pajak semacam Sima yang kemudian dikenal dengan nama Pesantren.
Fenomena Tanah Perdikan tersebut tidak saja terdapat di Pulau Jawa. Di luar Jawa seperti Aceh, dikenal dengan sebutan Meunasah.
Sejarah Sastra Pesantren
Sastra Pesantren mulai tumbuh dan berkembang sejak masyarakat Nusantara mulai memiliki minat belajar ke Jazirah Arab, Mekah dan Madinah. Seperti Sastra Indonesia yang menggunakan Aksara Latin atau Sastra Kawi yang menggabungkan Aksara Sansekerta dan Aksara Kaganga, maka Sastra Pesantren menggabungkan Aksara Arab dengan tanda dan penanda Kenusantaraan.
Pelajar pelajar Nusantara yang menuntut ilmu di Mekah mengenal Sastra Arab yang sudah tersistem dengan rapi sehingga mengenal ilmu ilmu yang membahas tentang rima sepertimana ‘araudl dan bahr.
Di kemudian hari, Aksara Arab-Melayu atau di Jawa dikenal dengan sebutan Aksara Pegon di Jawa menjadi alat komunikasi yang efektif di samping Aksara Kawi yang masih juga digunakan di istana. Ketika pelajar pelajar muslim mulai mengenal ajaran Islam, mereka mendapat wewenang untuk menempati suatu daerah atau wilayah perdikan, Tanah Merdeka yang otonom dan bebas pajak. Biasanya, Tanah Perdikan ini diberikan oleh penguasa, raja atau sultan, kepada pemangku agama.
Di Tanah Perdikan tersebut tumbuh subur orang orang yang mempelajari agama Islam berupa fikih, tafsir, dan tasawuf.
Pada masa sebelum muslim menjadi mayoritas ketika budaya Hindustan masuk ke Nusantara, khususnya Sumatera dan Jawa, orang orang Nusantara mempelajari ajaran dewa dewa yang biasa disebut Weda. Kaum pembelajar yang menekuni Sastra Dewa tersebut dinamakan Kaum Kawa yang menciptakan Kakawin (semacam puisi). Kaum yang menggunakan bahasa dan Aksara Kawi (gabungan atau semacam akulturasi Aksara Hindustan, Sansekerta, dan Aksara Kaganga yang sudah tersebar dari Sumatera hingga Filipina).
Materi Fisik Sastra Pesantren
Bentuk fisik Sastra Pesantren adalah Aksara Pegon. Aksara yang umum dijumpai di pesantren pesantren. Namun, ulama semacam Syekh Abdus Somad Palembang menggunakan Aksara Arab-Melayu ketika menulis kitabnya, Sirrus Salikin. Demikian pula, kiai kiai lain yang sudah berbilang menulis kitab kitab yang menggunakan Aksara Pegon atau Aksara Arab-Melayu dengan berbagai macam varian.
Disebutkan oleh Wildana Wargadinata, konsep sastra masih sangat rancu bagi pembelajar di Indonesia. Pada saat yang sama, sastra sering dibedakan dengan literasi yang memiliki konotasi hampir sama. Begitu pula, sastra dalam pembelajaran Aksara Arab juga memiliki makna dan ‘stressing’ yang juga berbeda. Namun dipahami bahwa; “Pada umumnya orang sepakat bahwa sastra dipahami sebagai satu bentuk kegiatan manusia yang tergolong pada karya seni yang menggunakan bahasa sebagai bahan. Jadi bahan merupakan karakteristik sastra sebagai karya seni.” Yang dapat dilihat, disentuh, dan diraba;
“Diantaranya adalah sisi bahan, teks sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam berbagai cara oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum daripada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakekatnya dalam rangka fungsi sastra berperan sebagai sarana komunikasi, yaitu untuk menyampaikan informasi.”
Isi Sastra Pesantren
Secara umum, Sastra Pesantren menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar pada Studi Agama di pesantren pesantren. Kiai kiai pesantren masih mengajar dengan kitab kitab asli berbahasa Arab seperti tafsir, fikih, maupun tasawuf/akhlak.
Namun, membaca bahasa Arab secara langsung akan terasa sulit memahaminya, apalagi jika sudah menyentuh aspek batin dan penghayatannya. Oleh karena itu, diperlukan upaya upaya saduran agar bahasa Arab dapat dimengerti umum meskipun tetap dengan menggunakan simbol simbol Aksara Arab. Dalam Studi Agama ini, isi Sastra Pesantren diambil dari kitab kitab asli fikih, tafsir, atau akhlak tersebut dengan menggunakan aksara turunan berupa Aksara Pegon atau Arab-Melayu tersebut.
Pada taraf penghayatan, Sastra Pesantren digunakan sebagai wahana religiusitas. Menyampaikan pemahaman pemahaman batin yang terkandung dari Kitab Suci Al Quran, hadis, dan ilmu ilmu variannya seperti Falak, Balaghah, dan semacamnya.
Sastra Pesantren difungsikan juga sebagai Kritik Sosial-Politik. Hal ini dapat dilihat dari perdebatan antara Syekh Nuruddin Ar Raniri dan Syekh Hamzah Fansuri. Latar belakang sosial politik yang dipicu dari perbedaan pemahaman telah melahirkan karya karya sastra yang bermutu.
Sastra Pesantren juga digunakan sebagai Sastra Perlawanan. Ketika Belanda melalui Van Ophuijsen mulai menggerakkan Aksara Latin untuk memperkuat landasan teori Sastra Indonesia yang digunakan hingga sekarang. Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim menerbitkan buku berjudul Kitab Logat Melajoe. Dalam kitab tersebut dimuat sistem Alfabet atau Aksara Latin untuk bahasa Melayu di Indonesia.
Sastra Pesantren dengan menggunakan Aksara Pegon melakukan perlawanan politik terhadap Belanda. Pesantren pesantren menolak Aksara Latin dan menggunakan Aksara Pegon sebagai bentuk perlawanan yang memfungsikannya sebagai bahasa sandi dan komunikasi antarkiai.










