Pengembangan Pesantren Al Furqon Lubuklinggau mengalami proses pengenalan bentuk yang berjalan alami, tidak terkonsep sebagaimana kebanyak pesantren di Pulau Jawa yang menekankan sebuah spesifikasi seperti pesantren Al Quran, pesantren salaf yang khusus membidangi kajian kitab kitab salaf, dan pesantren modern yang mencirikan pada bahasa Inggris.
Pada awal pendirian Pesantren Al Furqon Lubuklinggau, KHA Zahruddin Syambasi menginginkan Kota Lubuklinggau dan sekitarnya menjadi wilayah basis santri sehingga diperlukan banyak pesantren. Sehingga, KHA Zahruddin Syambasi sangat antusias jika ada alumni pesantren yang ingin mendirikan pesantren. Karena, pesantren bukan saja sebuah lembaga pendidikan agama dalam pengertian awam, melainkan sebuah komponen budaya yang tidak terpisahkan dari sejarah Nusantara dan Indonesia. Pesantren juga merupakan basis pertahanan idealisme bangsa dari waktu ke waktu, terutama ketika menghadapi kolonialisme Belanda, Portugis, dan Inggris di kawasan Asia Tenggara. KHA Zahruddin Syambasi, baik langsung atau tidak langsung, ikut terlibat dalam proses pendirian pesantren pesantren yang ada di Kota Lubuklinggau dan sekitarnya seperti Pondok Pesantren Hubbul Aitam, Pondok Pesantren Modern Al Ikhlas, Pesantren Modern Ar Risalah, Pondok Pesantren Al Istiqomah Desa Bumimakmur, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musirawas Utara, dan Pondok Pesantren Madrasatul Quran, Desa G1 Mataram, Kabupaten Musirawas.
Pada proses selanjutnya, Drs H Ahmad Wahyuddin menekankan proses dan dukungan ekonomi dan kelembagaan pendidikan yang kuat melalui pendirian RA Al Furqon Lubuklinggau, SD Al Furqon Lubuklinggau, dan SMP Al Furqon Lubuklinggau. Sebelumnya, Drs H Ahmad Wahyuddin pernah mendirikan perguruan tinggi dan SMA Al Furqon Lubuklinggau.
Dua warisan tersebut, budaya pesantren dan kelembagaan pendidikan tersebut telah menjadi modal yang cukup meskipun capaian capaian maksimal terus mengalami pasang surut.
Oleh karena itu, Pesantren Al Furqon Lubuklinggau memerlukan orientasi sistematis dengan pendekatan metodologi pembelajaran yang inovatif setelah cucu cucu KHA Zahruddin Syambasi telah beranjak dewasa dan memilki latar belakang pendidikan yang beragam. Modal utama warisan budaya dan lembaga pendidikan tersebut memerlukan penanganan yang dikerjakan secara sistematis dan tidak statis.
Di bawah kepemimpinan Masyhadi, Pesantren Al Furqon Lubuklinggau tetap memelihara tradisi salaf dan kitab kitab kuningnya dengan pendekatan baru. Dengan pendekatan sistematis, pengajaran kitab kuning akan dilakukan dalam kegiatan yang tidak membosankan sehingga pembelajaran yang biasa dianggap momok bagi kalangan santri justeru menjadi sebuah kegembiraan dalam menuntut ilmu.[Mangiya].










