Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
  • Beranda
  • Berita
    • All
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional

    Literasi Siswa Perlu Langkah Pembiasaan

    SMA Al Furqon Lubuklinggau Hadirkan Kamus Cinta

    Dua Kiai yang Masih Satu Nasab pada KRT Nitinegoro

    Beramal Jariyah dengan Menabur Benih

    Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Bersahabat dengan Anak

    Aceh: A City of Ancient Civilization, Full of Charm

    Penguatan SDM Terorganisir di Pondok Pesantren Al Furqon

    Terapkan Edupreneur, Pondok Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Unggulkan Tradisi

    Mengapa kita harus mengaji?

    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media
No Result
View All Result
Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
No Result
View All Result

Kisah Manggala dari Cukilan (Napak Tilas Jejak Langkah KHA Zahruddin Syambasi)

Minggu 25 Mei 2025 | 250525
in Album

Bagian I

 Asal Usul

Penduduk Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, memiliki makam keramat yang berlokasi di Cuwet. Makam tersebut adalah makam keluarga Raden Singamanggala. Konon, makam tersebut tidak bisa dipayungi atau diberi pelindung kecuali sebatang pohon randu besar yang sudah lama tumbuh di lokasi makam tersebut. Dan, disebutkan, jika para pembesar yang hidup di wilayah Kecamatan Suruh adalah keturunan dari RM Sandiyo atau Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kartosuro atau Kiai Nur Iman Mlangi. Kakak Sri Sultan Hamengkubuwono I yang menolak menjadi sultan di Yogyakarta dan memilih jalan hidup menjadi kiai di pesantren.

Makam itu berada di tepi jalan desa. Setiap orang yang datang akan melintasi lokasi pemakaman itu. Di dekat makam Raden Singamanggala itu, bersemayam sepasang suami istri bernama Tohirin dan Wasilah. Dilihat dari nama keduanya, sepasang suami istri itu merupakan santri yang taat. Tohirin adalah putera Raden Singamanggala.

Pada masa lalu, Desa Cukilan termasuk desa yang sulit ditempuh. Jalannya terjal dan curam. Hampir tidak ada kendaraan yang masuk. Mobil hanya berhenti di pinggir jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Suruh dan Kota Salatiga. Butuh jalan kaki dan perlu memakan waktu yang lama untuk sampai di sana.

Pada bulan Ramadan tahun 1983, Syambasi mengajak serta anak anak dan istrinya untuk berziarah ke Desa Cukilan, menempuh perjalanan kaki di tengah musim kemarau yang terik. Ia sengaja ingin mengingatkan sejarah orang orang terdahulu yang tidak mudah. Menempuh perjalanan dengan risiko marabahaya. Dan, kebahagiaan dalam menghargai jerih dan susah payah.

Memang, setiba di desa dan disambut oleh sanak saudara, Syambasi, istri, dan anak anaknya disambut gembira oleh keluarga. Setelah lama merantau di Sumatera, baru kali itu, ia dan keluarganya memiliki kesempatan untuk berziarah.

Meskipun demikian, Syambasi yang memiliki watak pendiam itu tidak pernah bercerita jika di Desa Cukilan itu telah bersemayan kakek dan neneknya. Seperti sengaja disembunyikan, waktu kunjungan itu dihabiskan hanya untuk mencari segantang air dan menikmati opor daging ayam yang telah disediakan oleh keluarganya di Desa Cukilan.

Syambasi yang gemar memakan jagung rebus itu seolah telah mendapatkan oase kenangan yang memang sejak lama akrab dalam kehidupannya. Bahkan, ketika ia meninggalkan Desa Toyogiri dan memutuskan untuk merantau ke Sumatera juga meninggalkan rumah kosong dan kebun jagung yang sudah siap panen. Dari jagung itu, hingga ia wafat, giginya terlihat masih tersusun rapi dan tidak keropos. [Mangiya].

Tags: CukilanDesa CukilanKecamatan SuruhKota LubuklinggauLubuklinggauPesantren Al Furqon LubuklinggauSuruh
Previous Post

Terinspirasi dari Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng

Next Post

Kisah Manggala dari Cukilan (Napak Tilas Jejak Langkah KHA Zahruddin Syambasi)

Next Post

Kisah Manggala dari Cukilan (Napak Tilas Jejak Langkah KHA Zahruddin Syambasi)

Pesantren Al Furqon Lubuklinggau Tiga Desa Bejaten Kabupaten Semarang

Pesantren Al Furqon Lubuklinggau

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT

Navigasi Situs

  • • Kebijakan Privasi
  • • Pedoman Siber

Ikuti Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
    • Berita Lokal
    • Berita Nasional
  • Profil Madrasatul Furqon Lubuklinggau
    • Mengenal Pesantren Al Furqon Lubuklinggau
    • Identitas Media

© 2025 Pesantren Al Furqon Lubuklinggau - Tim IT