Bagian II
Langkah Ki Semar di Desa Bejaten
Demikian, Tohirin dan Wasilah memiliki seorang anak lelaki bernama Suhud. Belum diketahui lebih jauh, apakah Suhud memiliki saudara atau tidak.
Di Desa Cukilan itu, Suhud lahir dan tumbuh dalam asuhan orangtuanya. Ketika beranjak dewasa, Suhud memiliki gairah untuk mesantren di Desa Bejaten yang kala itu ada seorang Kiai Sepuh bernama Abdullah Umar. Orang orang di sekitar Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, terutama Pesantren Poncol, menyebutnya Mbah Kiai Sepuh dalam silsilah Keluarga Raden Ahmad KRMT Nitinagara Gogodalem. Kesepuhan KH Abdullah Umar tersebut diungkapkan pula oleh KH Nahrowi Dalhar Watucongol yang mengatakan, “Abdullah Umar kuwi Kangku.” KH Nahrowi Dalhar atau sering disebut Mbah Dalhar adalah generasi santri yang paling muda selama mondok di Mekah di antara santri santri senior lainnya seperti KH Ali Hafidh Demak, Hadrastussyekh KHM Hasyim Asy’ari, KHA Wahab Chasbullah.
Di Pesantren Bejaten itu, Suhud mengikuti pengajian di masjid hingga akhirnya diambil menantu oleh Nyai Raden Dunuk, saudara sepupu KH Abdullah Umar. Suhud menikah dengan Murti’ah. Kemudian, menempati rumah di sebelah utara masjid, jalan menuju pesarean Desa Bejaten.
Seperti Syambasi dan saudara saudara perempuannya, Suhud memiliki performa yang kalem. Kalau berjalan melenggak lenggok seperti Semar. Murah senyum dan sumeleh. Dari hasil pernikahan tersebut, Suhud dan Murti’ah dikarunia tiga orang puteri (Hindun, Maryam, dan Ruhaimi) dan seorang putera bernama Syambasi yang di kemudian hari dikenal namanya Ahmad Zahruddin Syambasi.
Sedikit sekali informasi yang bisa digali dari cerita Suhud dan Murti’ah. Hanya diinformasikan, jika sepetak tanah peninggalan sepasang suami istri itu sudah dijual setelah tiga kakak perempuannya, Hindun, Maryam, dan Ruhaimi menjalani biduk rumah tangga masing masing. Hindun mengikuti suaminya dan tinggal di Desa Glawan, selatan Desa Bejaten. Maryam mengikuti suaminya dan tinggal di Dukuh Kalongan, Desa Bejaten. Sementara, Ruhaimi menikah dengan AM Sukarjo dan tinggal di Muarakelingi, Kabupaten Musirawas. Di kemudian hari, Ruhaimi wafat dan dikebumikan di Tebuireng, Kabupaten Jombang. [Mangiya].










