Bagian I
Asal Usul
Penduduk Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, memiliki makam keramat yang berlokasi di Cuwet. Makam tersebut adalah makam keluarga Raden Singamanggala. Konon, makam tersebut tidak bisa dipayungi atau diberi pelindung kecuali sebatang pohon randu besar yang sudah lama tumbuh di lokasi makam tersebut. Dan, disebutkan, jika para pembesar yang hidup di wilayah Kecamatan Suruh adalah keturunan dari RM Sandiyo atau Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Kartosuro atau Kiai Nur Iman Mlangi. Kakak Sri Sultan Hamengkubuwono I yang menolak menjadi sultan di Yogyakarta dan memilih jalan hidup menjadi kiai di pesantren.
Makam itu berada di tepi jalan desa. Setiap orang yang datang akan melintasi lokasi pemakaman itu. Di dekat makam Raden Singamanggala itu, bersemayam sepasang suami istri bernama Tohirin dan Wasilah. Dilihat dari nama keduanya, sepasang suami istri itu merupakan santri yang taat. Tohirin adalah putera Raden Singamanggala.
Pada masa lalu, Desa Cukilan termasuk desa yang sulit ditempuh. Jalannya terjal dan curam. Hampir tidak ada kendaraan yang masuk. Mobil hanya berhenti di pinggir jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Suruh dan Kota Salatiga. Butuh jalan kaki dan perlu memakan waktu yang lama untuk sampai di sana.
Pada bulan Ramadan tahun 1983, Syambasi mengajak serta anak anak dan istrinya untuk berziarah ke Desa Cukilan, menempuh perjalanan kaki di tengah musim kemarau yang terik. Ia sengaja ingin mengingatkan sejarah orang orang terdahulu yang tidak mudah. Menempuh perjalanan dengan risiko marabahaya. Dan, kebahagiaan dalam menghargai jerih dan susah payah.
Memang, setiba di desa dan disambut oleh sanak saudara, Syambasi, istri, dan anak anaknya disambut gembira oleh keluarga. Setelah lama merantau di Sumatera, baru kali itu, ia dan keluarganya memiliki kesempatan untuk berziarah.
Meskipun demikian, Syambasi yang memiliki watak pendiam itu tidak pernah bercerita jika di Desa Cukilan itu telah bersemayan kakek dan neneknya. Seperti sengaja disembunyikan, waktu kunjungan itu dihabiskan hanya untuk mencari segantang air dan menikmati opor daging ayam yang telah disediakan oleh keluarganya di Desa Cukilan.
Syambasi yang gemar memakan jagung rebus itu seolah telah mendapatkan oase kenangan yang memang sejak lama akrab dalam kehidupannya. Bahkan, ketika ia meninggalkan Desa Toyogiri dan memutuskan untuk merantau ke Sumatera juga meninggalkan rumah kosong dan kebun jagung yang sudah siap panen. Dari jagung itu, hingga ia wafat, giginya terlihat masih tersusun rapi dan tidak keropos. [Mangiya].









